“Berdasarkan laporan di aplikasi SKDR dari puskesmas dan rumah sakit di Kota Banjarmasin, sampai 6 Maret 2026 belum ada kasus campak yang terkonfirmasi positif,” ujar Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Banjarmasin, dr Emma Ariesnawati, Selasa (10/3/2026) siang.
Namun demikian, sejak Januari hingga 6 Maret 2026 tercatat 10 kasus suspek campak yang dilaporkan fasilitas kesehatan di Banjarmasin. Rinciannya tiga laki-laki dan tujuh perempuan. Kelompok usianya, empat kasus terjadi pada anak usia 0–10 tahun, enam kasus lainnya kelompok usia di atas 10 tahun.
Seluruh sampel pasien telah dikirim ke Laboratorium Kesehatan Masyarakat (Labkesmas) Banjarbaru untuk pemeriksaan lebih lanjut.“Hasil pemeriksaan semuanya negatif,” jelas Emma.
Meski belum ada kasus positif, Dinkes tetap meningkatkan kewaspadaan. Menurutnya, mobilitas masyarakat antar daerah cukup tinggi sehingga potensi penyebaran penyakit tetap perlu diantisipasi.
Karena itu, Dinkes memperkuat sistem pengawasan penyakit dengan pemantauan ketat di seluruh fasilitas kesehatan. Jika ditemukan kasus yang mengarah pada campak, akan segera dilakukan penyelidikan epidemiologi dalam waktu 1 x 24 jam.
Langkah pencegahan lain yang juga dilakukan adalah melalui penguatan imunisasi rutin serta imunisasi kejar (catch-up) bagi anak-anak yang belum mendapatkan vaksin campak-rubella.
“Termasuk penguatan tata laksana medis dan pemberian vitamin A pada pasien yang dicurigai mengalami campak,” tambahnya.
Emma menjelaskan, tenaga kesehatan juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap setiap kasus demam disertai ruam yang berpotensi mengarah pada campak. Setiap suspek wajib segera dilaporkan melalui sistem SKDR.
Di tingkat puskesmas, surveilans aktif juga dilakukan. Termasuk pemeriksaan laboratorium apabila ditemukan kasus yang dicurigai secara klinis. Selain itu, pengawasan turut melibatkan masyarakat melalui kader kesehatan di lingkungan masing-masing.
“Para kader juga berperan membantu mendeteksi apabila ada anak di lingkungan yang mengalami gejala campak,” katanya.
Berdasarkan tren laporan SKDR, jumlah suspek campak di Banjarmasin justru menunjukkan penurunan. Pada Januari–Februari 2026 tercatat 84 suspek campak, sementara pada periode yang sama tahun 2025 mencapai 103 kasus.
Dari sisi pencegahan, cakupan imunisasi campak-rubella di Banjarmasin juga tergolong baik. Pada 2025, capaian MR1 pada bayi mencapai 89,73 persen, sedangkan MR2 pada baduta sebesar 89,62 persen, melampaui target nasional sebesar 80 persen.
Sementara pada Januari–Februari 2026, capaian imunisasi MR1 sebesar 12,73 persen dan MR2 sebesar 12,62 persen, mendekati target periode tersebut.
Meski demikian, masih ada bayi dan balita yang belum mendapatkan imunisasi lengkap. Untuk mengejar ketertinggalan itu, Dinkes melaksanakan program imunisasi kejar bagi anak usia 9 hingga 59 bulan.
Program ini dilakukan melalui puskesmas, posyandu, PAUD atau TK, tempat ibadah, hingga pos layanan khusus di tingkat RT dan RW.
Selain itu, Dinkes juga akan mengeluarkan surat edaran kewaspadaan campak kepada 28 puskesmas, rumah sakit pemerintah dan swasta, serta lintas sektor di Kota Banjarmasin.
Ia pun mengimbau para orang tua agar memastikan anak mereka telah mendapatkan imunisasi sesuai jadwal.
“Bagi orang tua yang memiliki anak di bawah lima tahun agar segera melengkapi imunisasi campak sesuai dosis dan jadwal yang ditetapkan. Jika belum lengkap, dapat mengikuti program imunisasi kejar,” pungkas Emma.
Editor : Sutrisno