Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Banjarbaru, dr. Siti Ningsih, saat dikonfirmasi Radar Banjarmasin, Senin (9/3) mengatakan puluhan laporan tersebut masih didominasi hasil pemeriksaan negatif.
“Dari hasil pemeriksaan laboratorium, sebanyak 24 kasus dinyatakan negatif campak dan rubella, satu kasus positif rubella, serta dua kasus positif campak. Selain itu, tiga sampel masih dalam proses pemeriksaan laboratorium, sementara 23 kasus tidak memiliki sampel pemeriksaan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, berdasarkan hasil investigasi epidemiologi lanjutan, kasus positif campak dan rubella tersebut tidak memiliki hubungan epidemiologi satu sama lain. Artinya, tidak ditemukan keterkaitan penularan langsung antar kasus yang terlapor.
Campak sendiri merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus measles. Penyakit ini umumnya ditandai dengan demam tinggi, batuk, pilek, mata merah, serta muncul ruam kemerahan pada permukaan kulit.
Menurut dr. Siti, penanganan penderita campak umumnya bersifat suportif. “Penanganannya berupa pemberian cairan yang cukup, nutrisi, vitamin A, serta obat penurun panas untuk membantu meredakan gejala,” jelasnya.
Untuk mencegah penyebaran penyakit, pihaknya menekankan pentingnya imunisasi Campak-Rubela (MR) sesuai jadwal imunisasi nasional.
Selain itu, penguatan surveilans dan pelaporan kasus suspek juga menjadi langkah penting dalam mendeteksi dini potensi penyebaran penyakit.
“Masyarakat kami imbau tidak panik, namun tetap waspada serta memastikan anak-anak mendapatkan imunisasi lengkap sesuai jadwal,” pungkasnya.
Editor : Sutrisno