BANJARBARU – Kelompok tani (poktan) di Jalan Seledri, Kelurahan Sungai Ulin, beralih menanam jagung pipil setelah mengalami kesulitan memasarkan singkong.
Peralihan komoditas tersebut membuahkan hasil dengan panen jagung mencapai 200 ton.
Ketua Poktan Sungai Ulin, Nur Khalim mengatakan, sebelumnya petani menanam singkong di lahan seluas 12 hektare. Namun, keterbatasan akses pasar membuat hasil panen sulit terserap, terutama dalam skala besar.
“Singkong itu proses penjualannya sangat susah, apalagi skala besar. Kemarin kita tanam sampai 12 hektare, tapi menjualnya kesulitan,” ujarnya.
Kondisi tersebut mendorong petani beralih menanam jagung pipil. Apalagi, Pemprov Kalsel memberikan dukungan berupa bibit, obat-obatan, pengolahan lahan, hingga sarana produksi pertanian lainnya.
“Kalau sudah dipipil, hasilnya sekitar 10 ton per hektare. Penjualannya lebih mudah, harganya juga lumayan, dan alat-alat pertanian dibantu pemerintah,” katanya.
Khalim menyebutkan, salah satu faktor utama ketertarikan petani adalah kepastian pasar. Jagung hasil panen dapat langsung diserap Perum Bulog tanpa melalui perantara, sehingga memberikan jaminan harga bagi petani.
“Walaupun panen sampai 200 ton, tetap diterima Bulog. Sekarang kita tanam sampai 6 hektare dan antusias masyarakat sangat luar biasa,” imbuhnya.
Baca kumpulan berita terpopuler RADAR BANJARMASIN di Google News. Klik di sini
Editor: Sutrisno
Editor : Arief