Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Banjarmasin Darurat Sampah, Pemko Andalkan 1.582 Agen 3R

Endang Syarifuddin • Selasa, 3 Maret 2026 | 12:00 WIB

DIANGGAP REALISTIS: Pemerintah kota kini mengandalkan peran agen 3R di setiap RT untuk mengurangi sampah dari sumbernya, sembari menekan beban pembuangan ke luar daerah.
DIANGGAP REALISTIS: Pemerintah kota kini mengandalkan peran agen 3R di setiap RT untuk mengurangi sampah dari sumbernya, sembari menekan beban pembuangan ke luar daerah.

BANJARMASIN – Penanganan sampah di Kota Banjarmasin memasuki babak baru. Setelah penutupan TPAS Basirih, pemerintah kota memilih bertumpu pada kekuatan masyarakat dengan membentuk 1.582 agen 3R (reduce, reuse, recycle) di setiap Rukun Tetangga (RT).

Kebijakan ini mendapat dukungan penuh dari DPRD Kota Banjarmasin. Ketua Komisi IV, Hj Neli Listianti menilai langkah tersebut sebagai pilihan paling realistis di tengah status darurat sampah yang masih membayangi kota seribu sungai. Menurut istri Wali Kota Banjarmasin M Yamin HR itu, persoalan sampah tidak lagi bisa diselesaikan hanya dengan menambah armada angkut atau mencari lokasi pembuangan baru.

“Kami sangat mendukung gerakan agen 3R di setiap RT. Ini bentuk keterlibatan langsung masyarakat dalam menangani sampah dari sumbernya,” ujar Neli, Senin (2/3).

Ia menjelaskan, pembentukan agen 3R di 52 kelurahan dan lima kecamatan merupakan respons atas ditutupnya TPAS Basirih sejak Februari 2025. Penutupan satu-satunya TPA milik pemerintah kota itu memaksa perubahan pola pengelolaan sampah secara cepat dan mendasar.

Dalam kondisi tersebut, kata Neli, kekuatan kota harus difokuskan pada pengelolaan sampah berbasis rumah tangga. Agen 3R berperan sebagai penggerak sekaligus pendidik agar warga terbiasa memilah sampah, memanfaatkan kembali barang layak pakai, dan memperkuat aktivitas daur ulang di lingkungan masing-masing. “Agen 3R inilah yang berada di tengah masyarakat. Mereka yang mengingatkan, mengedukasi, sekaligus mengawal perubahan perilaku,” tegasnya.

Meski begitu, DPRD menegaskan fungsi pengawasan tetap berjalan. Para agen 3R mendapatkan dukungan anggaran dari APBD, sehingga kinerjanya harus terukur dan berdampak nyata. “Karena mereka juga dibiayai pemerintah, tentu kinerjanya harus terukur dan benar-benar berdampak,” kata Neli.

Gerakan masif ini diharapkan mampu mengurangi volume sampah yang selama ini dibuang ke TPA regional Banjarbakula di Banjarbaru. Pengurangan dari sumber dinilai menjadi satu-satunya jalan agar Banjarmasin keluar dari jerat darurat sampah.

Wali Kota Banjarmasin, HM Yamin HR sebelumnya menegaskan pendekatan lama dalam penanganan sampah sudah tidak relevan. Menurutnya, edukasi dan kesadaran masyarakat menjadi kunci utama. “Kami membentuk 1.582 agen 3R sebagai garda depan. Kalau masyarakat mulai memilah dari rumah, beban TPA akan berkurang drastis,” ujarnya.

Yamin menambahkan, program ini disesuaikan dengan karakter Banjarmasin sebagai kota berbasis sungai. Sampah rumah tangga kerap berakhir di drainase dan aliran sungai.

Dengan kehadiran agen 3R di setiap RT, pemerintah berharap pengelolaan sampah tidak lagi bergantung pada TPA semata. Melainkan tumbuh dari kesadaran kolektif warga kota.

Editor: Eddy Hardiyanto

Editor : Arief
#kalimantan selatan #pemko banjarmasin #kota banjarmasin #Banjarmasin Darurat Sampah #M Yamin HR