BANJARMASIN - Keberadaan halte sementara di Jalan Jenderal Sudirman, samping SPBU Sabilal Muhtadin Banjarmasin, menuai keluhan warga. Meski bersifat sementara, fasilitas yang tersedia dinilai jauh tertinggal dibanding halte asal di Nol Kilometer Banjarmasin.
Nika hampir setiap hari menggunakan bus dari halte tersebut. Sejak dipindahkan, jumlah tempat duduk sangat terbatas, terutama pada jam sibuk. Warga Banjarbaru yang bekerja di Banjarmasin ini kerap mengalah kepada lansia dan orang yang lebih tua. Tak sedikit penumpang terpaksa berdiri atau duduk di trotoar sambil menunggu bus.
“Kalau hujan di sini tidak aman. Lihat saja banyak yang berdiri dan duduk di trotoar,” ujarnya, Senin (2/3).
Menurut Nika, sebagai pengganti halte utama, fasilitas di lokasi sementara seharusnya lebih diperhatikan agar kenyamanan penumpang tetap terjaga.
Keluhan serupa disampaikan Nova Andika, mahasiswi Politeknik Negeri Banjarmasin. Ia mengaku harus berjalan kaki dari depan gerbang pasar wadai setelah turun dari bus rute Universitas Lambung Mangkurat. “Jika sore agak ramai. Untuk tempat duduk tidak masalah, karena saya masih muda,” ungkapnya.
Selain penumpang, halte sementara juga dipadati ojek. Mereka berjejer di bahu jalan menawarkan jasa kepada pengguna bus.
Salah seorang ojek, Ahmad Rifani mengatakan fasilitas di halte sangat terbatas. Area parkir tidak tersedia, kursi kurang, dan tenda sempit. “Jelas kursi kurang. Belum ketika kehujanan, dan orang yang berdiri, karena tendanya sempit,” katanya.
Halte sementara ini dibangun sebagai pengganti halte Nol Kilometer yang digunakan untuk lokasi Festival Pasar Wadai Ramadan. Penetapannya dikoordinasikan Dinas Kebudayaan Pemuda Olahraga dan Pariwisata Kota Banjarmasin bersama Dinas Perhubungan Kalimantan Selatan.
Dishub Kalsel menyediakan titik lokasi. Sementara Disbudporapar bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas.
Kepala Disbudporapar Banjarmasin, Ibnu Sabil memastikan pihaknya akan menindaklanjuti keluhan warga. “Segera saya minta tambahkan tenda agar lebih luas. Sore ini, panitia juga saya minta meninjau ulang apa saja yang bisa dilengkapi,” tuturnya.
Pengamat tata kota, Nanda Febryan Pratamajaya menilai status sementara bukan alasan mengabaikan aspek keselamatan dan kenyamanan. Ia menekankan pentingnya akses ramah disabilitas, ketinggian lantai halte, ketersediaan kursi, serta perlindungan dari hujan dan panas. “Dari sejumlah aspek ini saja, jika terpenuhi, artinya sudah layak untuk keamanan dan keselamatannya. Jika satu kurang, maka sudah dalam kategori tidak layak,” ujarnya.
Menurutnya, standar tersebut mengacu pada Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 10 Tahun 2012 tentang pelayanan minimal angkutan massal. Ia menegaskan, sebagai halte hub yang menghubungkan berbagai moda, standar di Nol Kilometer seharusnya tetap dipertahankan meski hanya bersifat sementara. “Walau sementara, setidaknya aspek standar tadi tidak serta merta tereliminasi,” pungkasnya.
Halte Pengganti Halte Nol Kilometer Dikeluhkan
Masalah Utama
- Tempat duduk sangat terbatas.
- Penumpang banyak berdiri/duduk di trotoar.
- Tenda sempit dan tidak muat saat hujan.
- Tidak ada area parkir ojek.
- Kurang nyaman saat jam sibuk.
Penyebab Pemindahan Halte
Nol Kilometer dipakai untuk Festival Pasar Wadai Ramadan.
Acuan Regulasi :
- Permenhub No. 10 Tahun 2012.
- Standar Pelayanan Minimal Angkutan Massal.
Pandangan Pengamat
Halte sementara tetap harus memenuhi:
- Akses ramah disabilitas.
- Tinggi lantai sesuai bus.
- Kursi cukup.
- Atap & dinding aman.
- Perlindungan panas & hujan.
Jika satu aspek tidak terpenuhi ? tidak layak.
Respons Pemerintah
- Akan menambah tenda.
- Evaluasi fasilitas.
- Meninjau kebutuhan tambahan.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief