BANJARMASIN – Ancaman kekerasan seksual terhadap anak di Kota Banjarmasin masih menjadi alarm serius. Yang bikin ironis, banyak kasus justru bermula dari lingkungan terdekat. Modusnya halus dibungkus dengan perhatian dan kasih sayang.
Kepala UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kota Banjarmasin, Susan, mengingatkan masyarakat agar tidak lengah terhadap pola pendekatan manipulatif yang dikenal dengan istilah child grooming. Modus ini kerap digunakan pelaku untuk menjerat korban.
“Seolah-olah bentuk kasih sayang, padahal ada keinginan lain untuk melakukan hal yang mengarah ke asusila,” ujar Susan, Jumat (20/2/2026) pagi.
Menurutnya, sejumlah kasus asusila yang tercatat dalam beberapa tahun terakhir banyak berawal dari orang-orang terpercaya atau lingkungan terdekat korban. Kedekatan emosional inilah yang dimanfaatkan pelaku untuk membangun kepercayaan sebelum melancarkan aksi.
UPTD PPA, lanjut Susan, kini menggencarkan sosialisasi ke sekolah-sekolah guna memberikan pemahaman kepada siswa tentang bahaya child grooming. Anak-anak diajak mengenali tanda-tanda pendekatan tidak wajar agar mampu melindungi diri sejak dini.
“Anak-anak sering tidak menyadari adanya maksud tertentu di balik perhatian yang diberikan. Karena itu edukasi harus terus dilakukan,” tegasnya.
Data UPTD PPA Kota Banjarmasin tahun 2025 menunjukkan kekerasan seksual menjadi jenis kasus tertinggi yang dialami anak. Tercatat 32 kasus menimpa anak perempuan dan 11 kasus dialami anak laki-laki. Angka ini menempatkan anak sebagai kelompok paling rentan terhadap tindak kekerasan seksual di tengah masyarakat.
Susan menekankan, dampak yang ditinggalkan tidak hanya secara fisik, tetapi juga trauma psikologis yang membekas dalam jangka panjang.
“Orang tua, keluarga, dan lingkungan terdekat harus mengantisipasi terjadinya hal ini karena anak-anak adalah masa depan kita,” katanya.
Ia juga menyinggung kasus yang sempat ramai dialami publik figur Aurelie Moeremans sebagai pengingat bahwa ancaman serupa bisa terjadi di mana saja, termasuk di Banjarmasin. Pola pendekatan manipulatif tersebut, menurutnya, harus menjadi perhatian serius semua pihak.
“Kasus-kasus seperti ini memang selalu ada setiap tahunnya dan tentu harus diantisipasi karena akan meninggalkan trauma bagi anak,” tambahnya.
UPTD PPA pun mendorong peran aktif masyarakat untuk berani melapor jika melihat indikasi kekerasan terhadap anak di lingkungan sekitar.
"Upaya pencegahan dinilai tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah, melainkan membutuhkan kepedulian bersama agar anak-anak Banua benar-benar terlindungi," pungkas Susan.
Wakil Ketua DPRD Banjarmasin, Muhammad Isnaini geram setelah mengetahui masih banyak anak-anak Banjarmasin yang menjadi korban. Untuk memberikan efek jera, para pelaku kejahatan terhadap anak harus diberi hukuman berat.
"Ini tidak bisa dibiarkan. Pelaku harus dihukum berat agar memberikan efek jera," tegasnya.
"Kami mendukung penuh langkah PPA dan kepolisian. Semoga semua elemen masyarakat ikut terlibat melindungi anak-anak dari kejahatan seksual," pungkas legislator dari Partai Gerindra itu.
Editor : Arif Subekti