Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

CKG Bongkar Krisis Kesehatan Pelajar Banjarmasin

Endang Syarifuddin • Rabu, 11 Februari 2026 | 15:42 WIB
Lebih dari separuh siswa terindikasi bermasalah secara fisik dan sebagian siswa SMA mulai menunjukkan gejala gangguan kesehatan jiwa.(Foto: Ramadhan untuk Radar Banjarmasin)
Lebih dari separuh siswa terindikasi bermasalah secara fisik dan sebagian siswa SMA mulai menunjukkan gejala gangguan kesehatan jiwa.(Foto: Ramadhan untuk Radar Banjarmasin)

BANJARMASIN – Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) justru membuka fakta krisi kesehatan pelajar di Banjarmasin. Data sepanjang 2025 menunjukkan lebih dari separuh siswa yang diperiksa terindikasi memiliki persoalan kesehatan fisik. Situasi ini diperparah dengan temuan awal gangguan kesehatan jiwa pada siswa SMA di tahun 2026.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin, Muhammad Ramadhan, mengatakan bahwa hasil CKG 2025 baru sebatas skrining kesehatan umum dan belum menyentuh aspek psikologis secara menyeluruh.

“Data CKG anak sekolah tahun 2025 ini baru skrining kesehatan umum, belum termasuk skrining kesehatan jiwa anak. Gambaran yang kita dapatkan juga memang masih terbatas,” ujar Ramadhan, Rabu (11/2/2026).

Meski demikian, data yang ada sudah cukup menjadi alarm. Berdasarkan catatan Bidang Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Kelompok Kerja Kesehatan Keluarga (Pokja Kesga), capaian skrining menunjukkan angka persoalan kesehatan yang signifikan. Pada jenjang SD, siswa yang terindikasi bermasalah mencapai 56,9 persen. Di tingkat SMP 56,2 persen, sementara SMA 50,4 persen.

“Angka ini menunjukkan masih banyak anak sekolah kita yang membutuhkan perhatian serius kondisi kesehatannya. Utamanya penyakit tidak menular yang mulai muncul di usia dini,” tegasnya.

Lebih mengkhawatirkan lagi, daftar penyakit yang paling banyak ditemukan pada pelajar bukan lagi penyakit ringan semata. Selain karies gigi dan anemia, muncul pula Diabetes Melitus (DM) tipe 2 dan pra-hipertensi. Penyakit yang selama ini identik dengan usia dewasa mulai menyerang anak sekolah. Kasus scabies juga masih ditemukan.

“Munculnya diabetes tipe 2 dan pra-hipertensi di usia sekolah menjadi sinyal buruk terhadap pola hidup anak-anak saat ini,” ujarnya.

Memasuki 2026, Dinkes Kota Banjarmasin mulai memperluas perhatian dengan melakukan skrining kesehatan jiwa, meski masih terbatas di tingkat SMA. Dari 167 siswa yang diperiksa, hasilnya cukup mengejutkan. Sebanyak 70 persen atau 117 siswa dinyatakan sehat secara mental, sementara 30 persen lainnya menunjukkan gejala gangguan kesehatan jiwa.

Temuan ini mempertegas bahwa persoalan kesehatan pelajar tidak lagi berhenti pada aspek fisik. Masalah mental dan psikologis kini mulai muncul ke permukaan, menjadi tantangan baru yang selama ini kerap terabaikan.

Karena itu, ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk membenahi pola hidup dan lingkungan tumbuh kembang anak. Dinkes berkomitmen memperluas jangkauan skrining agar deteksi dini bisa dilakukan secara lebih komprehensif.

“Anak-anak ini adalah masa depan kota. Kalau sejak sekarang kesehatannya bermasalah, dampaknya bisa panjang. Karena itu, skrining menyeluruh menjadi kebutuhan, bukan pilihan,” ungkap Ramadhan.

Editor : Arif Subekti
#banjarmasin #kesehatan #pelajar #fakta