Mulai 2026, Pemko tidak lagi membeli armada bus, melainkan memilih skema pembelian layanan dengan melibatkan pihak ketiga sebagai penyedia sekaligus operator angkutan massal tersebut.
Kebijakan ini akan menjadi bagian dari rencana pembukaan dua koridor baru Trans Banjarmasin, yang akan dibuka pada tahun ini.
Dalam skema baru tersebut, pihak ketiga akan membeli dan mengoperasikan armada, sementara peran pemko sebagai regulator dan pembayar layanan.
“Armada nanti kemungkinan lebih kecil. Kita tidak beli bus, tapi beli layanan. Mereka yang membeli dan mengoperasikan, kita tinggal membayar layanan yang sudah dijalani,” ujar Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Banjarmasin, Slamet Begjo, Rabu (11/3/2026) pagi.
Pola ini menurut pria yang biasa disapa Slamet ini, dinilai lebih efisien dan minim risiko. Beda ketika pemko mengelola sendiri. Banyak biaya yang harus dikeluarkan, mulai dari membeli armada, perawatan sampai perbaikan jika terjadi kerusakan.
“Kalau kita kelola sendiri, risikonya besar. Ketika armada rusak, bengkel kita tidak punya dan harus kerja sama dengan pihak lain. Dengan pihak ketiga, justru lebih banyak sisi positifnya bagi pemko,” jelasnya.
Saat ini, Trans Banjarmasin mengoperasikan 17 armada, terdiri dari lima bus ukuran medium dan 12 unit elf, yang melayani empat rute. "Tahun ini akan kita tambah dua koridor baru, masing-masing menuju Alalak dan Trisakti," beber Slamet.
Koridor Alalak dinilai strategis karena terhubung dengan Dermaga Alalak, sehingga memungkinkan integrasi antara angkutan sungai dan angkutan jalan sesuai rencana awal untuk mengintegrasikan angkutan sungai dengan darat.
Sementara koridor Trisakti diproyeksikan untuk mendukung layanan angkutan eksisting, termasuk mengatur jeda waktu atau headway kendaraan agar lebih pasti.
“Kita ingin ada kepastian layanan. Misalnya jeda paling lama setengah jam, tapi jelas waktunya. Ini yang ingin kita atur melalui transformasi layanan,” katanya.
Di tengah kondisi ekonomi sekarang, apakah akan ada penyesuaian tarif? Slamet menegaskan bahwa pihaknya masih tetap mempertahankan tarif lama.
Pelajar dikenakan tarif Rp2.000, sedangkan penumpang umum Rp3.000. Pemasukan untuk daerah dari Trans Banjarmasin saat ini mencapai sekitar Rp400 juta per tahun, dan dengan penambahan koridor diharapkan dapat lebih meningkat.
Meski demikian, pemko menyadari bahwa pendapatan dari penumpang belum menjadi orientasi utama, melainkan keberlanjutan layanan publik dan keteraturan transportasi kota. Pihaknya akan mengembangkan potensi aset yang ada untuk menambah pemasukan bagi daerah.
"Shelter atau armada yang ada juga bisa kita manfaatkan untuk perusahaan-perusahaan yang ingin pasang iklan," pungkas Slamet.
Editor : Sutrisno