Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

17 Petani Milenial Banjarmasin Terancam Gagal Berangkat ke Penas Petani dan Nelayan di Gorontalo

Zulvan Rahmatan • Kamis, 29 Januari 2026 | 16:39 WIB
Kabid Pertanian di DKP3 Banjarmasin, Jenderawati (kiri).
Kabid Pertanian di DKP3 Banjarmasin, Jenderawati (kiri).

BANJARMASIN – Pemerintah Kota Banjarmasin masih mengupayakan agar 17 petani milenial dapat berangkat mengikuti Pekan Nasional (Penas) Petani dan Nelayan di Gorontalo, Sulawesi Utara, pada pertengahan 2026. Ajang empat tahunan itu dinilai penting sebagai sarana pembelajaran dan penguatan semangat generasi muda di sektor pertanian.

Kepala Bidang Pertanian Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Perikanan (DKP3) Kota Banjarmasin, Jenderawati menegaskan keikutsertaan petani tetap perlu diperjuangkan meski kondisi anggaran daerah tengah mengalami rasionalisasi di banyak SKPD. Menurutnya, Penas bukan sekadar perjalanan dinas, melainkan forum strategis untuk menambah wawasan dan jejaring petani, di tengah menurunnya minat generasi muda pada profesi pertanian. “Maunya 17 orang jika tidak terpangkas anggaran. Sangat disayangkan jika petani kita tidak berangkat karena perjalanan banyak dipotong,” ujarnya, Rabu (28/1).

Jenderawati menekankan, para petani tidak akan menikmati fasilitas mewah selama kegiatan. Mereka justru akan tinggal dan beraktivitas langsung di wilayah dengan tingkat stunting serta pendapatan per kapita menengah ke bawah. Ia berharap para peserta benar-benar menyerap ilmu selama kegiatan, dan menerapkannya sepulang dari Penas untuk kemajuan pertanian di Kota Banjarmasin.

Selain menjadi ajang pembelajaran, Penas juga membuka ruang interaksi antarpelaku pertanian dari seluruh Indonesia untuk memahami pola dan teknik budi daya di berbagai daerah selama sekitar sepekan. Para petani milenial ini nantinya akan mendapat bimbingan langsung dari Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA), baik melalui pembekalan teori maupun praktik lapangan.

Terkait tipografi wilayah, Jenderawati mengakui adanya perbedaan jenis lahan dan komoditas unggulan di tiap daerah. “Secara pertanaman sama saja. Yang membedakan jenis tanahnya pegunungan, irigasi bagus. Di kita pasang surut. Daerah mereka juga ada siam lokal,” jelasnya.

Meski demikian, ia optimistis petani Banjarmasin tetap dapat memetik banyak pelajaran. Mulai dari pemeliharaan tanaman, pemupukan, penggunaan sarana produksi, hingga pemanfaatan teknologi pertanian yang sesuai dengan karakter lahan pasang surut.

Sebanyak 17 calon petani milenial ini dari lima kecamatan. Jumlah terbanyak dari Banjarmasin Selatan dan Banjarmasin Timur. Itu menyesuaikan luas lahan pertanian yang tersedia.

Proses seleksi dilakukan secara ketat. Calon peserta harus legal, terdaftar dalam aplikasi Simluhtan nasional, berdomisili dan aktif bertani di Banjarmasin, berusia maksimal 39 tahun, sehat jasmani, serta memiliki komitmen belajar dan berbagi ilmu. “Harus ada pertanggungjawaban, dan tiap malam di sana mereka bikin laporan. Karena pakai anggaran daerah, jangan sampai tidak ada hasil produktif ketika pulang,” bebernya.

Ia menegaskan ketahanan pangan merupakan bagian dari asta cita Presiden Prabowo Subianto yang harus mendapat perhatian serius. Selama ini, kebutuhan pangan Banjarmasin masih bergantung pada pasokan dari luar daerah.

Kondisi ini, menurutnya, kontras dengan perjalanan dinas aparatur yang relatif lancar dan nyaman dari sisi fasilitas. Karena itu, jika petani gagal berangkat akibat pemangkasan anggaran, hal tersebut dinilai sangat disayangkan. “Ini ajang empat tahun sekali. Jika tidak berangkat kasihan. Kita berharap tidak ada pemangkasan untuk ini,” pungkasnya.

Editor: Eddy Hardiyanto

Editor : Arief
#petani #banjarmasin #Nelayan #anggaran