Ketua Badan Pengelola Masjid Raya Sabilal Muhtadin, Muhammad Tambrin mengatakan warna akhir dari tulisan tersebut bukan biru, melainkan putih.
Kesan biru tersebut ternyata hanya plastik pelapis sementara, fungsinya melindungi akrilik pada warna tulisan yang sebenarnya selama proses pengerjaan berlangsung.
“Warna putih berarti warna suci, sunnah hukumnya pakaian berwarna putih ketika salat atau ke masjid,” ujar Tambrin. Jumat (23/1/2026) malam.
Diberitakan sebelumnya, pengelola masjid menepis spekulasi liar netizen yang mengaitkan perubahan warna tersebut dengan maksud tersembunyi maupun arti simbolik apapun.
Tambrin menegaskan perubahan tersebut murni bagian pemeliharaan dan renovasi menyambut datangnya bulan Suci Ramadan.
“Tidak ada kaitannya perbaikan ini dengan simbol warna (partai, red) tertentu. Artinya murni perbaikan,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia mengimbau bahwa masyarakat agar tidak menggiring opini yang mengarahkan masjid kepada kelompok-kelompok tertentu.
Ia menekankan, Masjid Raya Sabilal Muhtadin adalah masjid umat Islam, terbuka dan dapat digunakan semua kalangan.
“Kita tetap lakukan perbaikan atas saran dan masukan berbagai pihak untuk kebaikan bersama, tetap jaga persatuan dan kesatuan,” imbuh Thamrin.
Dia berharap, masyarakat lebih bijak dalam menyikapi informasi di sosial media, sehingga tidak mudah terprovokasi berdasarkan asumsi dan tidak berdasarkan fakta, terlebih kepada rumah ibadah. (*)
Editor : M. Ramli Arisno