BANJARMASIN – Setiap kali air pasang mulai naik, warga disejumlah kawasan rawa Genangan di Banjarmasin diselimuti kecemasan.
Ancaman banjir yang datang berulang membuat warga harus hidup dalam kewaspadaan, dan berharap upaya normalisasi sungai yang dilakukan pemko benar-benar mampu menahan limpahan air pasang dan hujan.
Pekan ini saja, puncak air pasang diprediksi kembali terjadi. Normalisasi sungai pun dijadikan tameng terakhir untuk mengurangi genangan yang kerap mengepung permukiman warga.
Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Banjarmasin memastikan pengerahan alat berat terus berjalan di titik-titik prioritas. Kepala Bidang Sungai Dinas PUPR Banjarmasin, Syafiq Huwaida, menyebutkan saat ini sejumlah alat berat diturunkan melakukan pengerukan sungai.
“Saat ini ada tiga alat berat yang kami operasikan. Dua alat menggunakan ban karet sebelumnya bekerja di Sungai HKSN depan Kantor Kecamatan Banjarmasin Utara dan Sungai Miai di Jalan Pondok Kelapa,” ujar Syafiq.
Menurutnya, percepatan pengerukan dilakukan sebagai langkah antisipatif menghadapi pasang tinggi dan curah hujan yang sulit diprediksi. Pengerjaan terus bergeser mengikuti skala prioritas dan akses alat berat di lapangan.
“Normalisasi sungai terus kita kebut sebagai tameng terakhir menghadapi limpahan air pasang dan curah hujan. Setelah menyisir wilayah utara, alat berat kini digeser ke kawasan Belitung,” katanya.
Salah satu fokus utama normalisasi adalah Sungai di Jalan Gatot Subroto, yang selama ini menjadi jalur krusial pembuangan air dari kawasan permukiman padat.
Pendangkalan sungai dinilai memperlambat aliran air saat pasang bertemu hujan, sehingga genangan kerap bertahan lebih lama.
“Dengan pengerukan ini, kami berharap genangan air di permukiman bisa lebih cepat masuk ke Sungai Gatot. Ini bagian dari upaya pengendalian banjir yang terus kami lakukan,” ucap Syafiq.
Namun di sisi lain, keresahan warga masih terasa. Erna (45), warga Pengambangan, mengaku selalu diliputi rasa cemas setiap kali air pasang datang.
“Setiap air pasang saya selalu deg-degan. Pemko jangan hanya bergerak saat darurat,” ujarnya.
“Yang paling repot itu mau masak, dan setelah banjir rumah jadi kotor, capek membersihkan,” sambungnya.
Keluhan serupa disampaikan Syarif, warga lainnya, yang menilai persoalan drainase lingkungan dan sedimentasi sungai belum ditangani secara menyeluruh.
“Setiap tahun ceritanya sama. Kami capek waspada terus. Jangan sampai banjir ini dianggap biasa,” tegasnya.
Editor : Arif Subekti