Terik matahari berangsur mereda. Di tengah kerumunan bentrok, pandangan Arifin semakin kabur, hanya teriakan dan pakaian abu-abu yang tersisa dalam pengelihatannya.
——
Saat itu, mahasiswa Universitas Islam Kalimantan (Uniska) Muhammad Arsyad Al Banjari (MAB) ini memang terlibat dalam aksi unjuk rasa di Kantor DPRD Kalimantan Selatan (Kalsel) pada Kamis (15/1/2026) petang.
Kerumunan massa saat itu memaksa menerobos masuk Rumah Banjar, Muhammad Arifin yang berada di garda terdepan, langsung beradu kuat dengan brikade kepolisian beratribut lengkap.
Kericuhan pun tak dapat dihindarkan, aksi saling dorong merubah arena mencekam sesaat, namun dia bernasib sial, terpisah dari rekan-rekannya yang terpukul mundur oleh aparat keamanan.
“Aku merasa ada yang sengaja menarik ke dalam kerumunan polisi, rasanya terinjak-injak dan ada pukulan” ujarnya. Jumat (16/1/2026).
Dalam posisi tumbang, ia hanya bisa menutupi kepalanya dengan tangan, pandangannya pun nyaris gelap seakan merasa ingin pingsan.
Di situasi pasrah, ia sayup mendengar teriakan rekan-rekannya mencemaskan dirinya. “Pak itu teman ku teritinggal, sudah-sudah,” ucapnya menirukan entah suara dari siapa.
Tak lama, ia berhasil dijemput keluar, tersungkur di belakang massa yang masih tersulut emosi atas kericuhan yang telah terjadi kedua kali ini.
Dalam kondisi lemah, ia hanya bisa menghela nafas, sambil merasakan kepanikan para rekan yang mencoba memastikan kondisinya.
Ia diminta untuk ke naik ambulans, menuju rumah sakit RSUD Ulin Banjarmasin karena wajah berubah mulai pucat.
“Aku tak terlalu tau kondisi sendiri, mereka minta untuk ke rumah sakit aku sempat nolak, tapi teman-teman khawatir karena benjolan besar ada di kepala,” ungkapnya.
Setelah cukup bisa berfikir, ia baru menduga benjolan di kepala itu akibat terkena hantaman benda tumpul atau pentungan petugas.
Sementara itu, badannya terasa sakit diduga akibat terinjak-injak saat terjebak dalam kerumunan aparat.
Di IGD RSUD Ulin Banjarmasin, ia menolak anjuran untuk observasi, mengingat cedera di kepala cukup jadi pertimbangan, namun rasanya cuman sekedar benjolan.
“Sempat dipasangi oksigen aja, keadaan masih sadar, tak sempat pingsan dan ngomong masih jelas,” sebutnya.
Di rumah sakit, Arifin bersama satu orang rekan lainnya sempat mendapat perawatan medis, namun ia baru diperbolehkan pulang sekitar jam 20.00 Wita, dengan kondisi yang berangsur pulih.
Di sisi lain, aksi ini didasari penolakan terhadap wacana pengembalian pemilihan kepala daerah (Pilkada) tidak langsung atau dipilih melalui DPRD.
Dalam aksi tersebut massa memaksa bertemu Ketua DPRD Kalsel, Supian HK yang diketahui tengah dalam agenda reses.
Mereka pun berencana kembali menggelar aksi Jilid II, dengan menyatakan akan membawa massa yang lebih besar lagi.
Editor : Arif Subekti