Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Sistem Ketahanan Pangan Banjarmasin jadi Sorotan, KSP Minta Segera Ditangani

Zulvan Rahmatan • Kamis, 15 Januari 2026 | 12:32 WIB
HAMBATAN: Lahan pertanian di Kecamatan Banjarmasin Timur berubah akibat genangan banjir.
HAMBATAN: Lahan pertanian di Kecamatan Banjarmasin Timur berubah akibat genangan banjir.

BANJARMASIN — Sistem ketahanan pangan Kota Banjarmasin menjadi sorotan Tenaga Ahli Utama Kedeputian II Kantor Staf Presiden (KSP), Febriyantoro, saat berkunjung ke Pemerintah Kota Banjarmasin, Senin (12/1).

Kondisi geografis Kota Seribu Sungai dinilai rentan terhadap genangan banjir, baik akibat pasang laut (rob) maupun kiriman air dari Daerah Aliran Sungai (DAS) Martapura. Situasi ini berdampak langsung pada lahan persawahan yang menopang ketahanan pangan kota. “Ini harus diprioritaskan. Bahwa 1.800 hektare berkaitan langsung dengan ketahanan pangan. Kami pastinya sangat konsen terhadap proses kerugian dan dampak dari luapan air tersebut,” ujarnya.

Menurut Febriyantoro, persoalan banjir harus segera ditangani secara serius. Pasalnya, selama ini genangan air masih menjadi ancaman nyata bagi keberlangsungan pertanian di Banjarmasin.

Ia menegaskan, upaya tersebut sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya terkait kemandirian air dan pengelolaan lingkungan berkelanjutan. Jika berhasil diatasi, sistem ketahanan pangan Banjarmasin diyakini dapat menjadi contoh bagi daerah lain.

Kepala Bidang Pertanian DKP3 Kota Banjarmasin, Jenderawati membenarkan kondisi tersebut. Bahkan saat ini, lahan pertanian di Kecamatan Banjarmasin Selatan dan Timur masih tergenang air hingga dapat dilintasi perahu.

Ia menjelaskan, luas lahan pertanian di Banjarmasin mencapai sekitar 2.500 hektare, dengan kemampuan tanam sekitar 1.900 hektare. Wilayah terluas berada di Banjarmasin Selatan dengan 1.400 hektare, disusul Banjarmasin Timur 440 hektare, sementara sisanya tersebar di Banjarmasin Barat dan Utara.

Menurutnya, petani setempat sudah terbiasa dengan siklus pasang surut. Namun, kondisi tersebut membuat mereka hanya bisa menanam padi sekali dalam setahun demi menghindari kerugian. “Beruntung saat air mulai naik, mereka sudah selesai panen di bulan Oktober. Kalau air naik, kita tak sanggup tanam dua kali setahun,” terangnya.

Selain banjir, tantangan lain pertanian lahan rawa adalah tingkat keasaman tanah yang tinggi. “Jadi tanah itu untuk mencapai standar pH yang lebih tinggi antara lima sampai tujuh. Dibajak, diberi pengapuran dan didiamkan sampai benih bisa ditanam,” jelas Jenderawati.

Ia mengingatkan, banjir besar pada 2021 lalu, sempat merendam lahan pertanian dan menyebabkan tanaman mati. Kerugian yang dialami petani kala itu diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah.

Editor: Eddy Hardiyanto

Editor : Arief
#Banjir #banjarmasin #pangan