BANJARMASIN - Tempat pembuangan sementara (TPS) tingkat kelurahan di Banjarmasin terus mengalami pengurangan, dampaknya TPS terasa menyempit hingga hari ini.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Banjarmasin, melalui Kepala Bidang Kebersihan dan Pengelolaan Sampah, Marzuki mengatakan delapan TPS sudah ditutup pada 2025 kemarin.
Totalnya, hampir 30 TPS tingkat kelurahan sudah ditutup dalam kurun waktu hanya lima tahun ke belakang.
“Memang ada yang hilang dan resmi ditutup dengan berbagai alasan dan sebab. Sekarang sekitar 90-an dari total semula 120,” ujarnya. Minggu (4/1/2026).
Pria yang akrab disapa Jack ini mengakui, keberadaan TPS masih dinilai kurang ideal untuk mengakomodir seluruh wilayah penghasil sampah.
Jumlah warga dan TPS berlangsung tak seimbang, sehingga penampungan di TPS kerap ditemui dalam keadaan kelebihan kapasitas.
Menurutnya Jack, kurangnya jumlah TPS tingkat kelurahan masih jadi tantangan. Sebab idealnya, TPS ada dua ditiap kelurahannya.
“Kelurahan kita ada 52, kalikan dua saja. Apa tidak 104? Belum lagi kelurahan yang yang penduduknya besar seperti Sungai Andai. Maka itu tak jarang warga buang sampah di kelurahan lain,” terangnya.
Belum lagi, Banjarmasin merupakan kota yang sudah berdiri hingga lebih dari lima abad, tata pengelolaan sampah otomatis menyesuaikan dengan kondisi pemukiman yang telah banyak berdiri.
“Di luar negeri bisa ambil sampah langsung dari depan rumah warganya, di sini tidak bisa karena banyak jalan yang sempit di pemukiman,” katanya.
Sebab itu, program surung sintak masih jadi andalan yang efektif untuk menyambut langsung sampah di TPS pada jam-jam tertentu, meski masih disertai tantangan.
“Surung sintak ini solusi, tapi berhasil tidaknya tergantung kerja sama di lapangan, kalau ada yang telat bisa menumpuk,” tegas Jack.
DLH mendorong agar kelurahan yang dianggap belum cukup bisa membuka TPS, termasuk mencari fasilitas umum yang lahannya ideal untuk dibuka.
“Kendala pasti, termasuk sebagian warga menolak karena dekat lokasi perumahan. Kita juga sempat sosialisasi memberi pemahaman agar fasilitas itu wajib tersedia di setiap kawasan,” ungkap Jack.
Sementara itu, DLH juga mengharapkan agar pengelola sampah tuntas di kelurahan masing-masing. Caranya melalui program pemilahan yang sudah difasilitasi, seperti TPS3R.
“Langkah baiknya, ini bisa menekan sampah yang datang ke TPA. Kami harap masyarakat tidak keberatan, bau berserakan itu bisa terminimalisir dengan kerja sama,” harap Jack.
Meski demikian, ia menyatakan masih terdapat pengeolaan sampah yang baik di tingkat kelurahan, salah satunya Mantuil.
“Pengelolaan TPS3R di sana bagus, SOP jalan, disiplin dan benar ketika dikelola kelompok swadaya masyarakatnya. Bau dan berserakan jelas bisa terminimalisir,” tambahnya.
Terbaru, TPS di Jalan Perdagangan kerap terpantau kelebihan kapasitas beberapa hari ke belakang ini. Bahkan sampah meluber hingga memakan badan jalan.
Penjaga TPS di lokasi, Mahlan mengaku program surung sintak dari DLH memang kerap datang mengangkut setiap hari, namun itu dirasa masih belum cukup untuk melonggarkan TPS.
“Paling sedikit datang dua sampai tiga truk. Tapi sini TPS besar warganya banyak, sepertinya lima truk baru cukup agar tak bersisa sekali angkutnya,” tutupnya.
Ia berharap pengelolaan sampah bisa lebih terukur, agar timbunan sampah di TPS Perdagangan tak mengendap berlama-lama.
Editor : Arif Subekti