BANJARMASIN - Sirene banjir yang terpasang di dua titik di Kota Banjarmasin mulai masuk tahap finalisasi.
Walau masih ada beberapa hal yang harus dirumus dan ditetapkan segera.
BNPB dan BPBD Kota Banjarmasin baru saja melakukan sosialisasi dan simulasi peringatan banjir di belakang Kantor Sungai Lulut, Kecamatan Banjarmasin Timur dan dekat SDN Teluk Dalam 11, Kecamatan Banjarmasin Tengah. Kamis (11/12/2025).
Kepala BPBD Kota Banjarmasin, Husni Thamrin menyoroti titik banjir yang menimbulkan genangan ketika posisi air pasang atau rob melebihi 2,5 meter di atas permukaan laut (mdpl).
“Artinya, bila 2,5 mdpl ke atas baru ada wilayah kita yang tergenang, bila di bawah 2,5 mdpl saja, kita tidak akan tergenang walaupun hanya dari satu sumber aliran sungai,” ujarnya, usai mengikuti rapat koordinasi bersama Fokopimdan Banjarmasin.
Husni menegaskan, membunyikan sirene banjir dengan ukuran ketinggian air tertentu masih belum ditentukan.
Pihaknya masih dalam proses pengkajian, sosialisasi dan akan melibatkan masukan warga kelurahan, posisi seperti apa sehingga sirene bisa mulai dibunyikan.
Informasi terbaru dari simulasi sirene banjir di Kelurahan Sungai Lulut telah merumuskan tiga kategori status banjir.
Pertama, status siaga berarti warga diminta meningkatkan kewaspadaan.
Kedua, waspada menunjukkan kondisi mulai mengkhawatirkan, dan warga harus bersiap.
Terakhir, awas merupakan tahap paling kritis, warga wajib bergerak menuju lokasi aman atau melakukan evakuasi.
“Perlu disepakati bersama, termasuk kepada masyarakat yang berada di kelurahan (Sungai Lulut dan Teluk Dalam) tersebut,” tambah Husni.
Di sosialisasi tersebut, masyarakat bukan cuma diedukasi, melainkan diberi informasi seputar sirene peringatan banjir, agar tidak panik dikemudian hari.
Sementara itu, penyelesaian sirene di dua kelurahan tersebut dibantu oleh BNPB RI, berdasarkan karakteristik dan analisa asal muasal air pasang atau rob menyusup masuk.
“Daerah kita yang rentan rob dan pasang tinggi dari aliran Sungai Barito dan Sungai Martapura yang menyebabkan banjir kiriman dari daerah tetangga,” jelas Husni.
Sehingga diputuskanlah pemasangan sirene di dua kelurahan yakni Teluk Dalam untuk mengawasi aliran Sungai Barito dan Sungai Lulut untuk aliran Sungai Martapura.
Aktivasi juga bisa dilakukan secara daring dari kelurahan ataupun langsung dari Pusdalops BPBD.
Radius suaranya diklaim BPBD bisa mencapai 2 kilometer dan cukup untuk menjangkau beberapa RT.
“Kami berterimakasih atas bantuan BNPB untuk alat peringatan dini, kita jadi bisa memantau titik tertentu agar bisa disampaikan kepada masyarakat, agar tidak terkejut,” tutup Husni Thamrin.
Editor : Arif Subekti