BANJARMASIN – Meski sosialisasi dan edukasi sudah gencar, namun faktanya pernikahan dini masih terus ditemukan di Kota Banjarmasin. Kini Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) menambah strategi baru dengan penguatan mental bagi pasangan muda, bukan hanya edukasi.
Kepala DP3A Banjarmasin, Muhammad Ramadhan mengungkap tak sedikit kasus yang mereka tangani berujung pada persoalan baru dalam rumah tangga. Banyak pasangan muda yang masuk dalam fase pernikahan tanpa kesiapan mental, psikologis, maupun ekonomi.
"Kekerasan sering muncul dalam perjalanan kehidupan berkeluarga akibat disharmoni, yang biasanya dipicu persoalan ekonomi atau sosial," ucap Ramadhan, Senin (8/12).
"Apalagi jika pasangan muda itu sudah punya anak. Kekerasan terhadap ibu ataupun anak kerap terjadi," sambungnya.
Ada beberapa kasus yang menjadi perhatian serius DP3A karena menunjukkan pola yang sama, pasangan menikah di usia belia, belum siap membangun rumah tangga, lalu terseret ke dalam konflik hingga kekerasan.
DP3A tidak hanya berkutat pada kampanye pencegahan, tetapi juga meningkatkan pendampingan kepada pasangan muda yang terlanjur menikah. Tujuannya mencegah masalah yang berulang dan menekan dampak lanjutan pada anak. Menurut dia, ketidaksiapan mental dan psikologis menjadi penyebab terbesar persoalan rumah tangga di usia dini.
"Karena itu kami memperkuat pendampingan dan penguatan mental bagi pasangan muda," ucapnya.
Tak berhenti di lingkup keluarga, DP3A juga menurunkan tim edukasi ke sekolah tingkat SMP dan SMA. Sosialisasi dilakukan untuk membuka wawasan remaja tentang risiko menikah muda, terutama terkait masa depan pendidikan, ekonomi, dan kesehatan reproduksi.
Ia menegaskan bahwa ada usia ideal untuk menikah agar seseorang dinilai matang secara psikologis dan sosial. "Kami ingin masyarakat benar-benar memahami risiko menikah di usia muda. Edukasi ini penting demi melindungi generasi muda dari dampak pergaulan bebas dan keputusan yang terburu-buru," ujarnya.
Masih ditemukannya kasus pernikahan dini, DP3A menilai perlu adanya kerja sama yang lebih kuat dari masyarakat, lembaga pendidikan, dan keluarga.
Berharap, semakin banyak warga yang memahami konsekuensi dari pernikahan dini, angka kasus yang memicu kekerasan rumah tangga bisa ditekan.
"Edukasi akan terus digencarkan, dengan pola pendekatan yang lebih relevan untuk anak muda. Tujuannya hanya satu: menjamin generasi Banjarmasin tumbuh dalam lingkungan yang aman, siap, dan penuh perlindungan," tutup Ramadhan.
Editor: Syarafuddin
Editor : Arief