Ini bukan pertama kalinya lansia berusia sekitar 72 tahun itu was-was. Bahkan setiap kali banjir datang, ia selalu diliputi kecemasan karena menyimpan memori kelam peristiwa banjir rob yang pernah melanda hidupnya.
Jika tahu air mulai naik, ia kerap panik. Meminta barang-barang dan perkakas dipindahkan ke atas, sampai-sampai tidur pun enggan.
Baca Juga: Banjir Rob Rendam Kubah Basirih, Air Keruh Genangi Area Makam
Trauma itu berakar dari pengalaman pahit beberapa tahun silam.
Kala itu, ia bersama almarhum suaminya sempat tidur di tengah malam, namun terbangun dalam keadaan air sudah dalam.
Syok bukan kepalang, pasangan uzur itu hampir sempat terendam. Perkakas dan elektronik banyak yang rusak. Air diakui sangat cepat naik, bahkan cuma butuh waktu belasan menit.
Baca Juga: Empat Rumah di Gang 3 Kelayan Ludes, Saturi Kehilangan Semua
Malam itu, ia hanya duduk di kursi plastik di depan rumah. Padahal hari sudah larut malam, penglihatannya sudah redup akibat usia, tapi sang cucu membantu berbicara.
Ia mengaku sedih ketika rumahnya digenang banjir.
"Aku takut sekali hujan terus banjir, pernah setengah rumah, jadi tidak bisa tidur. Bila sudah musim banjir di sini pasti terkena," ujarnya dengan nada lirih.
Baca Juga: Antrean Panjang Pendaftaran HAKI, Dua Dinas Pemko Banjarmasin Kewalahan
Jika air tak kunjung surut, ia kerap enggan masuk rumah. Pintu rumah pun tak pernah ia tutup, tak jarang ia begadang hingga hari terang.
Harapan banjir rob surut adalah satu-satunya cara agar ia bisa tenang dan tertidur lelap.
"Aku khawatir, jika air dalam aku nangis karena barang-barang rumah pasti hancur. Mesin cuci hadiah anakku hancur kerendam," ungkap Nenek Salasiah penuh kekhawatiran.
Baca Juga: Operasi Zebra Intan, Pelanggaran Lalu Lintas di Kalsel Naik Drastis
Di usia senja, Nenek Salasiah memang tinggal seorang diri sejak suaminya meninggal beberapa tahun lalu.
Anak dan cucunya kerap menemani, terutama jika musim banjir seperti menjelang akhir tahun tiba. Mereka kerap berjaga menemani sang nenek.
"Kalau banjir tahunan di sini pasti kena. Yang dikhawatirkan cuman Nenek karena memang tinggal sendiri," tutur Muhammad Fikriannor, cucu Nenek Salasiah.
Baca Juga: Rutin Berikan Siraman Rohani di RGS, Kadis Kominfo Kotabaru Apresiasi Kanwil Kemenag Kotabaru
"Kalau sudah kondisi seperti ini sering-sering kami dan anaknya nginap," lanjutnya.
Menurut pemuda 22 tahun ini, wilayah tempat neneknya tinggal kerap kali tergenang hingga masuk ke dalam rumah.
Semuanya tak bisa tidur, perkakas dan alat rawan hilang karena hanyut terbawa banjir.
Baca Juga: Pemkab Kotabaru Beberkan Alasan Urgensi Revisi Perda Pajak dan Retribusi, Ini Instruksi Lanjutannya
"Jadi mungkin beliau trauma terhadap banjir. Pernah beliau tidur, air naik sangat dalam dan cepat," terang Fikri menjelaskan kondisi neneknya.
"Nenek takut kalau terjebak tak bisa lari kemana-mana, karena jalan susah dan pendengaran menurun".
Akibat pengalaman traumatis itu, Fikri sekeluarga sudah hafal pola banjir rob di kawasan mereka.
Baca Juga: Jejak Keilmuan Abuya KH Syukri Unus, Ulama Produktif yang Diingat Murid sebagai Guru Bersahaja
Suatu waktu ia pernah secara sengaja menghitung cepatnya banjir rob naik. Dari kondisi tidak ada air, cuma butuh 15 menit untuk membanjiri rumah setinggi lutut orang dewasa.
Jika banjir rob datang, meski hanya setara ketinggian teras rumah, aliran banjir kerap disertai arus deras layaknya sungai kecil.
Kondisi ini yang membuat Nenek Salasiah semakin cemas setiap kali air pasang tiba.
Baca Juga: Calon Haji Tanah Bumbu 2026 Dapat Fasilitas Pemeriksaan Kesehatan Gratis
Sebelumnya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banjarmasin telah merilis informasi puncak tertinggi banjir rob fase 1.
Tepatnya dini hari tadi, sekitar pukul 01.00 hingga 02.00 waktu setempat dengan ketinggian air diprediksi mencapai tiga meter di atas permukaan laut.
Sementara itu, terdapat puluhan titik di wilayah Kota Banjarmasin yang terendam banjir rob dengan kedalaman air beragam.
Baca Juga: Diguyur Hujan Hingga Siang, Jalan Hasan Basri Banjarmasin Masih Terendam
BPBD terus memantau perkembangan situasi dan menghimbau warga untuk tetap waspada terhadap potensi banjir rob susulan dalam beberapa hari ke depan. (*)
Editor : M. Ramli Arisno