BANJARMASIN - Kasus baru HIV/AIDS di Banjarmasin mencatatkan angka yang tidak bisa dianggap sepele. Hingga November 2025, sudah 219 kasus baru ditemukan.
Memang lebih rendah dibanding tahun 2024 yang mencapai 262 kasus. Tapi bagi Dinas Kesehatan, angka itu justru menjadi sinyal bahwa upaya pencegahan harus digas lebih kencang.
Kabid P2P Dinkes Banjarmasin, drg Emma Ariesnawati, menyebut penurunan ini bukan terjadi begitu saja.
“Ada kerja lapangan yang konsisten. Tim kami terus melakukan penyuluhan, memperluas layanan, dan mengaktifkan pencegahan dengan PrEP bagi kelompok berisiko,” ungkapnya.
Kelompok yang paling sering terpapar tetap didominasi laki-laki dewasa dengan perilaku seksual berisiko serta populasi kunci di sektor-sektor rentan. Sementara dari sisi umur, mayoritas kasus bukan remaja, melainkan usia produktif.
“Ini artinya kita berhadapan dengan kelompok yang aktif secara sosial, sehingga edukasi harus terus digencarkan,” jelasnya.
Momentum Hari AIDS Sedunia dimanfaatkan penuh oleh Dinkes. Skrining aktif dilakukan besar-besaran. Tim mobile clinic kembali turun menyusuri titik-titik yang dianggap rawan penularan.
“Kita gabungkan layanan statis di puskesmas dan rumah sakit dengan layanan jemput bola. Tujuannya memperluas akses testing,” kata Emma.
Banjarmasin juga menjalankan program “STOP HIV”, Suluh, Temukan, Obati, Pertahankan. Mulai dari edukasi, deteksi dini, pemberian obat ARV, hingga pendampingan pengobatan jangka panjang. Layanan pengobatan kini tersedia di 7 puskesmas PDP dan 5 rumah sakit, termasuk fasilitas TNI dan Polri.
Meski begitu, PR terbesar masih soal stigma. “Secara program ada peningkatan kesadaran. Tapi rasa takut masyarakat untuk tes masih besar. Banyak yang khawatir dicap, padahal hasil tes itu bersifat rahasia,” ucap Emma.
Ia menegaskan, HIV/AIDS bukan aib. ODHA tetap manusia yang berhak mendapat layanan, perlindungan, dan kesempatan hidup layak. “Semakin cepat diketahui, semakin cepat diobati. Itu yang harus dipahami,” tegasnya.
Dinkes juga memperkuat kolaborasi lintas institusi dengan puskesmas, rumah sakit, LSM dan komunitas. Tahun depan, mereka berencana menambah puskesmas PDP serta memperkuat SDM dan logistik layanan.
Ia berharap momentum Hari AIDS Sedunia menjadi alarm dan ajakan bersama. “Keluarga harus memberi dukungan moral dan sosial. ODHA bisa hidup sehat dan produktif jika menjalani terapi dengan baik,” tutur Emma.
Editor : Sutrisno