Informasi beredar di grup WhatsApp warga pada Kamis (4/12/2025) menyebutkan tingkah laku remaja yang mengkhawatirkan tersebut. Pesan berantai di grup percakapan warga menyebut anak-anak itu kerap kumpul sambil menghirup lem dan membawa senjata tajam.
"Anak-anak ngelem fox dan ada yang bawa senjata tajam parang," tulis pesan berantai dari grup percakapan warga.
Baca Juga: Arutmin Indonesia Dukung Operasi Tanggap Darurat Bencana Tapanuli Selatan
Tidak lama setelah informasi beredar, Radar Banjarmasin langsung melakukan pantauan di lokasi. Pukul 16.00 Wita, sekelompok anak-anak masih kedapatan berkumpul di Shelter Air Kampung Ketupat. Mereka tampak resah dan perlahan membubarkan diri saat melihat kehadiran wartawan. Meski begitu, perilaku aneh yang disebut-sebut warga belum terlihat saat pemantauan.
Warga setempat, Sahid, membenarkan tingkah kenakalan anak-anak di lingkungannya kerap membuat resah. Tidak jarang, di siring Wisata Kampung Ketupat itu mereka berkumpul hingga tengah malam dan kerap bertengkar.
"Paling ramai biasanya malam Sabtu dan Minggu, bukan cuma laki-laki tapi juga ada perempuan," keluh Sahid.
Baca Juga: Komisi III DPRD Banjarmasin Tolak Tambahan Anggaran Rp15 M Jembatan Cemara
Lebih parah lagi, Sahid pernah memergoki para anak masih di bawah umur itu melakukan kegiatan asusila di Shelter Air. Sebagian besar dari mereka diketahui masih duduk di bangku sekolah alias pelajar. Pada hari-hari sebelumnya, mereka berkumpul bahkan dengan masih mengenakan seragam sekolah.
Pria yang juga berprofesi sebagai pedagang di situ mengatakan, sebagian besar anak-anak yang kerap berkumpul bukan dari wilayahnya, melainkan dari luar Kampung Ketupat. Artinya, lokasi wisata ini menjadi titik kumpul remaja dari berbagai kawasan di Banjarmasin.
Siang tadi, sekumpulan anak-anak di sana sempat terlibat cekcok ringan dengan badut yang singgah tidur di Shelter Air. Badut tersebut terkejut karena anak-anak ada yang menggesekan sajam ke pagar besinya.
Baca Juga: Dinas PUPR Kalsel Berjanji Segera Pasang Plat Besi di Jembatan Guntung Manggis
"Badut terkejut karena anak-anak itu ada yang menggesekan sajam ke pagar besinya. Tak lama si badut pergi, mungkin karena takut," ungkap Sahid.
Kegiatan kumpul-kumpul dengan kenakalan anak ini bahkan mengganggu penumpang Kapal Kelotok yang ingin bersandar. Sahid menyebut, penumpang kelotok terkadang harus berhenti di shelter air lain karena takut disambut gerombolan remaja yang berkumpul di situ.
"Jadi mereka terkadang harus berhenti di Shelter Air lain, mungkin takut disambut gerombolan mereka yang berkumpul di situ," tandas Sahid.
Baca Juga: RSUD Tanjung Kekurangan 100 Bed, Pasien Terpaksa Dirawat di Selasar
Dikonfirmasi soal hal ini, Satpol PP Banjarmasin melalui Plt Kabid Pembinaan Masyarakat, Syaripudin, berjanji akan menindaklanjuti aduan warga. Ia mengakui sebelumnya memang sering ditindaklanjuti, namun kenakalan anak-anak itu kembali berulang karena kurang pengawasan.
"Sebelumnya memang sering ditindaklanjuti, tapi namanya anak-anak mungkin kembali berulah kalau kurang pengawasan. Kami akan tindaklanjuti, kalau benar akan kami beri tindakan untuk dibina," terang Syaripudin.
Mengenai senjata tajam, Syaripudin menyebut akan berkoordinasi dengan pihak kepolisian mengingat penanganan perilaku ini melebihi wewenang Satpol PP. Sebab, kebanyakan dari mereka masih di bawah umur dan perlu mendapatkan tindakan yang tepat sesuai ketentuan penanganan anak di bawah umur.
Baca Juga: Petik Pucuk Daun Singkong, Warga Landasan Ulin Diserang Celurit
"Kalau sajam pasti kita libatkan pihak berwajib (polisi) untuk dibina dan biasanya dipanggil orang tuanya," tutup Syaripudin.
Kasus kenakalan remaja di Kampung Ketupat ini menambah catatan panjang persoalan sosial yang perlu mendapat perhatian serius dari berbagai pihak. Selain penegakan hukum, peran orang tua dan masyarakat dalam mengawasi pergaulan anak menjadi kunci utama mencegah kenakalan remaja semakin meluas. (*)
Editor : M. Ramli Arisno