Bagi sebagian orang, urban legend dari tanah Kalimantan ini merupakan bagian dari pengalaman nyata yang sulit dijelaskan.
Anak Sima sering dibayangkan sebagai sosok anak kecil yang menangis di malam hari, memancing orang untuk mendekat.
Baca Juga: Politala Perkuat Pengembangan Maggot BSF di Kopasos Lewat Program 'Maggot Park'
Sementara Takau dipercaya sebagai makhluk sakti yang bisa berubah wujud, sekaligus makhluk yang pada akhirnya menciptakan hantu Anak Sima dari anak yang ditinggalkan orang tuanya di hutan.
Beranjak dari urban legend ini, Ruang Aktor memproduksi film Sisigan Kariau Sima yang akhirnya diangkat ke layar lebar melalui Banua Film Fund 2025, program dari Sineas Banua.
Sisigan Kariau Sima merupakan salah satu dari empat film horor lokal yang diluncurkan di salah satu bioskop di Banjarmasin pada Selasa (25/11).
Baca Juga: DPRD Banjar Temukan 22 Retakan di Proyek Rehabilitasi Jalan Rp720 Juta
Dalam arti yang lebih dalam, Sisigan Kariau diambil dari bahasa Banjar dialek Hulu. Sisigan artinya isak tangis pelan yang tertahan.
Sedangkan Kariau artinya teriakan gaib dari binatang buas atau makhluk halus.
Uniknya, naskah ini diangkat dari pengalaman pribadi istri sutradara Bastari Bayu. Ia juga berlaga sebagai aktor utama dalam alur cerita yang ia tulis.
"Dulu, orang tua kerap menggunakan cerita ini untuk membuat anak-anak tetap di rumah saat malam, tapi tak sedikit yang benar-benar percaya karena pernah mendengar atau melihat sesuatu yang janggal. Istri saya salah satunya," jelas Bayu.
Sisigan Kariau Sima bukan sekadar genre horor yang diangkat dari urban legend Kalsel, tapi representasi ketakutan, kenangan, dan cerita yang hidup serta berkembang di tengah masyarakat daerah di Kalsel.
Sebagai penulis, Bastari Bayu melihat cerita ini sebagai bagian dari folklore, cara masyarakat memahami suara, gelap, dan alam yang sulit dijelaskan.
Baca Juga: Bupati HSU Jejaki Kerja Sama dengan Wamen PKP untuk Program Rumah Layak Huni
Keempat film horor lokal ini diklaim menghadirkan pendekatan mitos, cerita rakyat, serta atmosfer urban legend Kalsel yang jarang tersentuh layar lebar.
Industri perfilman ini didukung penuh oleh Dinas Pariwisata Provinsi Kalsel yang mengapresiasi proses kreatif komunitas film di Banua sekaligus memperkenalkan sinema horor lokal kepada publik.
Kepala Dinas Pariwisata Kalsel Iwan Fitriady mengatakan, pemerintah provinsi berkomitmen terhadap industri layar lebar sebagai salah satu subsektor ekonomi kreatif yang sedang berkembang di Banua.
Baca Juga: DPRD HSS Sahkan Dua Perda Strategis, Dorong Investasi dan Lindungi Lahan Pertanian
"Di sini yang sudah sangat berkembang itu kan adalah kriya, kuliner, dan fashion. Selain itu rupanya film, jadi kami dukung berupa fasilitasi film karya anak Banua ini yang disenangi oleh generasi Z," ujar Iwan usai pemutaran film.
Kadis Pariwisata optimistis bahwa perkembangan industri layar yang digeluti oleh anak Banua bisa bersaing di tingkat nasional.
Selain itu, masih banyak rumah produksi film di Kalsel yang berpotensi muncul ke permukaan. Sehingga Dinas Pariwisata terus mendukung salah satu penggerak ekonomi kreatif di Kalsel melalui film.
Baca Juga: Banua Film Fund 2025 Luncurkan Empat Film Horor Berbasis Urban Legend Kalsel
Pengamat Banua Film Fund Budi Ismanto menyatakan, empat tema film yang diangkat ini hanyalah sebagian kecil dari total 16 urban legend yang ditemukan di Kalsel.
Pria yang juga memproduseri film Pirunduk yang akan segera menyusul tayang ini menambahkan, tema yang diangkat sangat dekat dengan kehidupan lokal dan kebudayaan masyarakat Kalsel.
"Mungkin secara teknis masih kurang untuk standar bioskop karena keterbatasan fasilitas. Tapi secara ide dan cerita sudah sangat bagus, salah satunya Sisigan Kariau Sima," tutup Budi. (*)
Editor : M. Ramli Arisno