Kepala Bidang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) Dinas Perhubungan (Dishub) Banjarbaru Adi Royan Pranata menjelaskan, skema one way diberlakukan khusus saat arus kepulangan jemaah Sekumpul. Sedangkan untuk arus kedatangan jemaah masih menggunakan jalur normal.
"Nantinya, seluruh akses keluar kota akan dialihkan menjadi satu arah demi mencegah penumpukan kendaraan," ungkap Adi Royan, Senin (24/11).
Baca Juga: Wabup HSU Ungkap Potensi Gulma Rumput Jablay untuk Ekonomi Hijau
Ia merincikan, di wilayah Kota Banjarbaru akan ada tiga koridor utama yang menjadi fokus rekayasa dengan skema one way.
Pertama, Ruas Jalan A. Yani dari Bundaran Simpang Empat menuju Banjarmasin hingga depan Citra Graha. Kedua, Jalan Mistar Cokrokusumo dari Bundaran Simpang Empat sampai pertigaan Bangkal arah Amanah Borneo Park. Ketiga, Jalan Trikora dari pertigaan Trikora menuju perempatan LIK Liang Anggang.
"Mulai pukul 20.00 WITA seluruh jalur utama menuju luar kota akan diberlakukan one way. Persiapan kami mulai satu jam sebelumnya," ujar Adi Royan.
Baca Juga: Tekan Inflasi Akhir Tahun, Banjarbaru Gencarkan Pasar Murah di 20 Kelurahan
Dishub juga mengusulkan perpanjangan jalur one way di beberapa titik rawan padat. Termasuk jalur keluar menuju Karang Intan sebagai akses ke Batulicin dan Kotabaru.
"Semakin panjang jalurnya, semakin cepat arus terurai. Tahun lalu pola ini cukup efektif, dan tahun ini kami perluas," kata Adi Royan.
Untuk mendukung rekayasa tersebut, sekitar 230 personel Dishub diturunkan ke titik-titik strategis. Penguatan juga dilakukan melalui kerja sama dengan dinas perhubungan daerah sekitar yang diminta membantu personel serta fasilitas pendukung seperti water barrier dan mobil derek.
"Tahun lalu beberapa daerah ikut membantu kami. Tahun ini kami kembali ajukan permohonan agar pengaturan di lapangan benar-benar optimal," terang Adi Royan.
Adi Royan menegaskan seluruh skema rekayasa masih bersifat dinamis dan akan menyesuaikan kondisi real-time di lapangan. Dishub Banjarbaru terus berkoordinasi dengan Tim Induk Sekumpul untuk menyesuaikan kebutuhan teknis menjelang puncak acara.
"Intinya kami memastikan jemaah nyaman, aman, dan arus kendaraan tetap terkendali. Rekayasa ini krusial karena volume kendaraan tidak dapat diprediksi," pungkas Adi Royan. (*)
Editor : M. Ramli Arisno