Kasi Barang Pokok dan Barang Penting (Bapokting) Dinas Perdagangan, Perindustrian, dan Energi Sumber Daya Mineral (Disdagperin) Banjarbaru Fitriyadi mengatakan, pasar murah ini merupakan langkah konkret pemerintah daerah untuk menjaga kestabilan ekonomi di tingkat rumah tangga.
"Sasarannya di lima kecamatan, 20 kelurahan. Kita bagi setiap kecamatan dua kelurahan. Kemarin sudah digelar di Landasan Ulin Timur dan Syamsudin Noor," ujarnya saat dikonfirmasi, Senin (24/11) siang.
Kegiatan berlangsung sejak 17 hingga 28 November 2025 dengan skema subsidi harga Rp5.000 per item. Komoditas yang dijual meliputi telur, minyak goreng, beras, dan gula. Subsidi ini membuat harga bahan pokok jauh lebih terjangkau dibandingkan harga pasar reguler.
"Pasar murah bersubsidi ini potongannya Rp5 ribu per item," terangnya.
Untuk menjaga ketersediaan pasokan, Disdagperin menggandeng Perum Bulog dan KTI Telur sebagai pemasok utama. Antusiasme warga, kata Fitriyadi, sangat tinggi sejak pasar murah pertama digelar. Antrean panjang warga yang ingin membeli bahan pokok murah menjadi pemandangan umum di setiap lokasi pelaksanaan.
Baca Juga: Pemekaran Kecamatan dan Kelurahan di Banjarbaru Tertunda Karena Kendala Anggaran
"Antusias masyarakat sangat meriah, dan warga menyambut dengan baik," ucapnya.
Salah satu warga Landasan Ulin Timur, Mutia, mengaku sangat terbantu dengan program tersebut. Harga yang lebih terjangkau membuatnya bisa memenuhi kebutuhan harian tanpa terbebani lonjakan harga di pasar.
"Sudah, kemarin datang di Landasan Ulin Timur. Beli telur, minyak, gula. Harganya lebih murah daripada di pasar," tuturnya.
Baca Juga: APBD HSS 2026 Resmi Ditetapkan Rp1,9 Triliun, DPRD HSS Tekankan Pengawasan dan Pelayanan Publik
Adapun harga bahan pokok di pasar murah antara lain beras Rp51.000 per 5 kilogram, gula 2 kilogram Rp25.000, minyak goreng 2 liter Rp28.000, serta telur ayam 2 kilogram atau satu rak seharga Rp52.000. Harga-harga tersebut jauh lebih murah dibandingkan harga pasar reguler yang bisa mencapai Rp5.000 hingga Rp10.000 lebih tinggi per item.
Mutia berharap kegiatan semacam ini dapat terus berlanjut, terutama mengingat kondisi ekonomi yang masih belum sepenuhnya stabil. Bagi keluarga dengan pendapatan menengah ke bawah, subsidi Rp5.000 per item sangat membantu meringankan beban belanja bulanan.
"Untuk kebutuhan di rumah sehari-hari saja. Harapannya pemerintah bisa melaksanakan ini terus untuk membantu masyarakat," ujarnya.
Program Pasar Murah ini, tegas Fitriyadi, menjadi langkah strategis Pemko Banjarbaru dalam memastikan agar inflasi di Banjarbaru tetap terkendali, khususnya memasuki periode akhir tahun yang identik dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat.
"Kami berharap dengan adanya pasar murah ini, daya beli masyarakat tetap terjaga dan inflasi tidak melonjak tajam menjelang Nataru," tandasnya.
Fitriyadi menambahkan, Pemko Banjarbaru akan terus memantau perkembangan harga bahan pokok di pasar dan berkoordinasi dengan pemasok untuk memastikan pasokan tetap lancar selama periode pasar murah berlangsung. Jika diperlukan, program ini dapat diperpanjang atau dilaksanakan kembali pada periode-periode tertentu yang rawan inflasi.
Selain pasar murah, Disdagperin juga melakukan pengawasan rutin terhadap harga bahan pokok di pasar-pasar tradisional dan modern untuk memastikan tidak ada praktik penimbunan atau permainan harga yang merugikan konsumen.
Program Pasar Murah Pemko Banjarbaru ini sejalan dengan upaya pemerintah pusat dalam menjaga stabilitas harga pangan nasional, terutama menjelang momen-momen penting seperti perayaan hari besar keagamaan dan pergantian tahun yang biasanya memicu lonjakan permintaan bahan pokok.
Dengan menyasar 20 kelurahan di lima kecamatan, Pemko Banjarbaru memastikan distribusi bantuan subsidi harga dapat merata dan menjangkau seluruh lapisan masyarakat di wilayah perkotaan maupun pinggiran. (*)
Editor : M. Ramli Arisno