Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Lukisan Air Terjun Meratus 1 Jadi Pernyataan Kebebasan Misbach Tamrin Usai 13 Tahun Mendekam di Penjara

Zulvan Rahmatan • Senin, 24 November 2025 | 17:56 WIB

DUKA: Potret Misbach Tamrin dengan karya pertamanya setelah bebas dari penjara: Air Terjun Meratus 1 di Pameran Tunggal Rindang Banua.
DUKA: Potret Misbach Tamrin dengan karya pertamanya setelah bebas dari penjara: Air Terjun Meratus 1 di Pameran Tunggal Rindang Banua.
BANJARMASIN - Di balik penampilannya yang konsisten dengan topi flat cap khas pelukis, Misbach Tamrin menyimpan perjalanan hidup yang penuh luka dan perjuangan. Tiga belas tahun mendekam di penjara sebagai tahanan politik (tapol) bukan akhir dari semangat berkarya sang maestro seni rupa Kalimantan Selatan, melainkan awal dari sebuah pernyataan kebebasan yang ia tuangkan dalam lukisan Air Terjun Meratus 1.

Jeruji besi tak pernah benar-benar membuatnya kehilangan kemampuan melihat keindahan dari ruang sempit. Perjalanan hidup sang maestro seni rupa ini memang tidak biasa. Pada tahun 1965, Misbach ditangkap oleh ABRI dan menjalani status sebagai tapol.

Saat itu, Misbach muda merupakan juru bicara Sanggar Bumi Tarung di bawah Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Lekra sendiri merupakan lembaga kebudayaan yang dimiliki Partai Komunis Indonesia (PKI) sehingga erat dikaitkan dengan peristiwa politik 1965.

Baca Juga: Pemekaran Kecamatan dan Kelurahan di Banjarbaru Tertunda Karena Kendala Anggaran

"Sehingga pada saat revolusi pecah, semua yang terkait dengan PKI ditangkap, Misbach salah satunya," ujar Hajriansyah, Ketua Dewan Kesenian Kota Banjarmasin, usai pembukaan Pameran Tunggal Misbach Tamrin di Taman Budaya Banjarmasin, Minggu (23/11/2025).

Selama 13 tahun, Misbach mendekam di penjara tanpa proses pengadilan. Sebagai tapol, ia pernah menjalani kerja rodi di daerah Tanjung untuk pengurukan dan pengerasan jalan hingga akhirnya dibebaskan pada 1978.

Setelah bebas, Misbach mulai menyematkan cat ke dalam kanvas berukuran 209 x 115 cm hingga terciptalah lukisan Air Terjun Meratus 1 dengan barisan perbukitan yang tampak eksotis. Lukisan ini bukan sekadar panorama alam Bumi Lambung Mangkurat, tetapi mewakili perasaan Misbach setelah sekian lama menepi dari hiruk pikuk masyarakat dan alam akibat mendekam di penjara.

Baca Juga: APBD HSS 2026 Resmi Ditetapkan Rp1,9 Triliun, DPRD HSS Tekankan Pengawasan dan Pelayanan Publik

"Alam pun saya tinggalkan. Setelah bebas saya kembali teringat, inilah pernyataan setelah keluar bahwa alam diberikan kembali setelah sekian lama mendekam 13 tahun," kenang Misbach di depan lukisannya yang dipamerkan.

Meratus bukan hanya indah, tetapi sangat dekat dengan kehidupan seorang Misbach sehingga diangkat dan menjadi tema lukisan di awal kebebasannya pada 1978.

"Di sini saya gambarkan kijang sekeluarga yang minum di bawah air terjun. Ini tanda setelah bebas, cinta alam dan masyarakat yang selama 13 tahun telah saya tinggalkan," tutur Misbach.

Baca Juga: Tujuh Fraksi DPRD HSS Sepakati APBD 2026, Tekankan pada Pelayanan Publik hingga Optimalisasi Aset Daerah

Selama ditahan, pria 84 tahun ini juga tak pernah berhenti melukis. Salah satu lukisan ikoniknya yang lahir dari dalam sel juga dipajang di Taman Budaya Banjarmasin, berjudul Perempuan Nusantara berukuran 138 cm x 45 cm yang dibuat satu tahun sebelum menghirup udara bebas pada 1977.

Pameran bertajuk "Rindang Banua" ini menampilkan 21 lukisan yang menggambarkan rentang panjang kehidupan sosial, budaya, dan sejarah Kalimantan Selatan. Misbach tetap produktif berkarya. Mayoritas lukisannya menyorot wajah kehidupan Bumi Lambung Mangkurat.

Mulai dari panorama Sungai Barito yang dipadati kapal pengangkut batu bara hingga potret keluarga pendulang intan, simbol mata pencaharian tradisional masyarakat Banjarbaru. Setiap goresan kuasnya menjadi saksi bisu atas perjalanan panjang tanah kelahirannya.

Baca Juga: Tindak Lanjut Edaran Provinsi Kalsel, Disdikbud HSU Imbau Siswa Tidak Beri Hadiah Materi ke Guru

Ciri paling kuat dari karya Misbach dalam pameran ini adalah penggunaan garis-garis gelap terang yang menjadi identitas visualnya. Menurutnya, elemen itu merupakan metafora perjalanan hidup manusia.

"Layar gelap terang itu ada perbedaan. Itu adalah cerminan kehidupan manusia antara suka dan duka yang selalu ada," kenang Misbach.

"Dan saya termasuk figur seniman yang pernah mengalami duka cukup tajam dalam hidup," lanjutnya.

Baca Juga: Legislator DPRD Banjarbaru Desak Pertamina Atasi Kelangkaan Pertamax yang Resahkan Warga di Sejumlah SPBU

Baginya, seni bukan sekadar objek keindahan, tetapi medium untuk menumpahkan gagasan, ingatan, dan refleksi perjalanan hidup yang telah dilaluinya dengan penuh perjuangan.

"Lukisan adalah wadah pikiran," tegasnya.

"Rindang Banua" menjadi pameran kedua sepanjang kariernya, namun yang pertama digelar di kampung halaman setelah tujuh dekade berkiprah di dunia seni rupa. Pameran pertamanya berlangsung di Galeri Nasional Indonesia pada 2015.

Baca Juga: Ricuh di DPRD Kalsel, Mahasiswa dan Aparat Saling Dorong Saat Negosiasi Dialog Menemui Jalan Buntu

Dari total 21 karya yang dipamerkan, tujuh di antaranya merupakan karya lama yang dibuat antara 1977–2007. Sementara 14 lainnya adalah karya terbaru yang digarap dalam tiga bulan terakhir, membuktikan bahwa di usia 84 tahun, semangat berkarya Misbach tak pernah padam.

Pameran "Rindang Banua" bukan hanya ajang memamerkan karya seni, tetapi juga menjadi ruang refleksi atas sejarah kelam yang pernah dialami bangsa Indonesia. Melalui lukisan-lukisannya, Misbach mengajak publik untuk memahami bahwa seni mampu bertahan melampaui masa-masa paling gelap sekalipun.

Kehadirannya di Taman Budaya Banjarmasin menjadi momentum penting bagi masyarakat Kalsel untuk mengenal lebih dekat sosok maestro yang telah mengabdikan hidupnya untuk seni rupa, sekaligus menghargai perjuangan seorang seniman yang tak pernah menyerah meski harus melewati 13 tahun di balik jeruji besi. (*)

Editor : M. Ramli Arisno
#Pameran Rindang Banua Banjarmasin #Air Terjun Meratus 1 #Tapol 1965 Kalimantan Selatan #Misbach Tamrin Pelukis Kalsel #Maestro Seni Rupa Kalsel