Kericuhan bermula saat para mahasiswa bernegosiasi untuk berdialog di dalam gedung kantor. Negosiasi disampaikan langsung kepada Ketua DPRD Kalsel Supian HK yang telah menghampiri massa aksi di lapangan.
Politisi asal Partai Golkar tersebut menyatakan sepakat atas aspirasi yang disampaikan para pengunjuk rasa, termasuk soal penolakan Taman Nasional Meratus.
Baca Juga: Cegah Kebakaran, Semua Pom Mini di Tanah Bumbu Wajib Lengkapi APAR
"Saya apa pun itu sependapat. Tadi saya juga sudah sempat dengarkan semuanya. Termasuk Taman Nasional Meratus saya tanda tangan menolak," ujar Supian HK.
Ketua DPRD dua periode ini sempat menawarkan agar 10 perwakilan masuk untuk berdialog di dalam gedung. Namun para pengunjuk rasa menolak dengan alasan mereka semua bagian dari satu kesatuan.
"Berapa jumlah kita? Satu!" sahut massa aksi serempak.
Baca Juga: Blue Light Patrol Polres Banjarbaru Jaring Remaja Diduga Balap Liar di Titik Rawan
Negosiasi berlangsung alot. Setelah beberapa waktu ditunggu, kesepakatan menemui jalan buntu. Massa yang marah mencoba memaksa masuk ke dalam melalui pintu gerbang gedung DPRD Kalsel.
Setibanya di pintu gerbang, massa langsung disambut kawalan barikade kepolisian beratribut lengkap. Mahasiswa dan aparat terlibat aksi saling dorong hingga terjadi kericuhan.
Massa aksi berhasil dipukul mundur oleh aparat keamanan. Sementara itu, petugas kepolisian dihujani lemparan botol dari para pengunjuk rasa yang berusaha memaksa masuk.
Baca Juga: Krisis Dokter Spesialis di Kotabaru! Ini Penyebabnya
Hingga sore hari, massa aksi masih berunjuk rasa di depan kantor legislator Rumah Banjar tersebut. Aparat keamanan terus berjaga ketat mengawal pintu gerbang untuk mengantisipasi kericuhan susulan.
Aksi unjuk rasa tersebut merupakan bentuk penolakan mahasiswa terhadap sejumlah kebijakan yang dinilai merugikan kepentingan masyarakat Kalimantan Selatan, termasuk rencana pembentukan Taman Nasional Meratus yang dianggap mengancam hak-hak masyarakat adat dan warga lokal. (*)
Editor : M. Ramli Arisno