Rumah yang telah dihuni keluarganya puluhan tahun itu kini tinggal puing-puing, sementara sebagian besar barang-barang mereka ikut tenggelam ke sungai.
"Terpaksa tinggal di sini karena dialihkan, jadinya sedikit-sedikit berbagi tempat," ujar Makunah, Jumat (21/11/2024).
Makunah mengaku sebelumnya sempat mendapat peringatan dari tetangga untuk segera pindah karena kondisi rumahnya yang mulai miring.
Peringatan itu terbukti benar ketika rumahnya ambruk pada Kamis (20/11) kemarin. "Katanya rumah saya mau roboh, diminta cepat pindah hari Selasa. Pas Kamis rumahnya ambruk," ungkapnya.
Lokasi rumah Makunah memang berada di atas jalur sungai yang sering mengalami banjir rob. Kondisi geografis ini yang membuat wilayah tersebut rawan longsor dan ambrukan bangunan.
Baca Juga: Cuaca Ekstrem Ancam Banjarmasin, BPBD Siagakan EWS Gempa dan Sirene Banjir
Kini, Makunah sekeluarga hanya bisa berharap kepada bantuan pemerintah karena tidak memiliki cukup biaya untuk membangun ulang rumah di lokasi yang sama.
Dampak kehilangan rumah tidak hanya dirasakan Makunah, tetapi juga anaknya, Khairullah, yang akrab disapa Ulah.
Pria yang sehari-hari bekerja di perusahaan rotan ini terpaksa meliburkan diri untuk fokus membersihkan dan memilah kayu-kayu dari sisa bangunan rumah mereka yang tenggelam.
Baca Juga: Setelah 16 Tahun Menunggu, DPRD Banjar Bawa Masalah APL Aranio Langsung ke Jakarta
"Saya harap dapat dibantu karena saya sekeluarga terpaksa tinggal di rumah sewaan yang didiami empat orang. Semoga dapat diperbaiki," harap Ulah.
Hingga kini, Makunah dan keluarganya masih menunggu kepastian bantuan dari pemerintah daerah untuk dapat membangun kembali hunian mereka yang layak. (*)
Editor : M. Ramli Arisno