Kondisi lapangan sesekali tampak becek dan tergenang, imbas pengerjaan yang dilakukan di tengah curah hujan yang meningkat.
Pengamat Tata Kota, Nanda Febryan Pratamajaya, menilai waktu pengerjaan tersebut kurang tepat.
Baca Juga: Mappanre Tasi 2025, Ritual Syukur Nelayan Kotabaru untuk Keselamatan Melaut
Menurutnya, pekerjaan konstruksi sangat dipengaruhi faktor alam, terutama ketika hujan turun dan mengganggu kualitas pekerjaan.
“Pasti harus ada pemompaan air genangan. Itu biaya dan waktu lagi. Saat pengecoran pun belum tentu tidak hujan, hasilnya bisa tidak maksimal,” ujarnya.
Ia menambahkan, drainase yang terbuka berpotensi tergenang sehingga campuran semen rentan tercemar air berlebih.
Baca Juga: Jembatan Balimau Jadi Kunci Akses Baru HST–HSU, DPRD Dorong Percepatan Pembangunan
Nanda menegaskan pengerjaan idealnya dilakukan menghindari musim hujan demi menjamin hasil konstruksi lebih optimal.
“Gedung dan drainase sebaiknya tidak dikerjakan saat musim hujan. Jangan sampai kena pos anggaran perubahan untuk perbaikan,” tegasnya.
Dinas PUPR Banjarmasin melalui Kabid Drainase, Harwita Oktania, tidak menampik bahwa idealnya proyek drainase dilakukan sebelum curah hujan meningkat. Namun, ia menyebut terdapat hambatan teknis.
“Memang seharusnya tidak di akhir waktu. Tapi ada perubahan posisi, saya baru dilantik Juli. Pengadaan barang dan jasa juga sempat terkendala upgrade sistem,” jelasnya.
Harwita menyebut proyek drainase Jalan Perdagangan yang awalnya 670 meter terpaksa dipangkas menjadi 315 meter karena kekhawatiran tidak rampung tepat waktu.
“Tidak ada unsur melambatkan. Proses birokrasi juga membuat pekerjaan harus bertahap,” ujarnya.
Baca Juga: Angka Perceraian 2025 di Tanah Bumbu Naik, Banyak Dipicu Judi Online⠀
Tahun depan, anggaran bidang drainase diperkirakan hanya sekitar Rp8 miliar dan tetap dibagi ke beberapa titik.
“Persoalan air itu mahal untuk dituntaskan. Kalau tidak ada pergeseran anggaran, kami percepat,” ucap Harwita.
Banjir rob dan genangan masih menjadi persoalan klasik di Kota Seribu Sungai. Dari total 300 km lebih jaringan drainase yang ditangani, baru sekitar 15 persen yang telah diperbarui.
Baca Juga: Kelangkaan Pertamax, Pengamat Sebut Ulah Mafia Migas
Wali Kota dan Wakil Wali Kota Banjarmasin, Muhammad Yamin HR dan Ananda, menetapkan penanganan banjir sebagai prioritas utama 2026.
Sebelumnya, BMKG Kalsel telah merilis prediksi puncak musim hujan 2025/2026 jatuh pada November–Desember 2025.
Sekda Kalsel, Muhammad Syarifuddin, mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan.
“Banjir besar dulu harus jadi pembelajaran. Kesadaran menjaga sungai, kanal, drainase, dan hutan itu penting,” ujarnya dalam rilis BMKG. (*)