Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Mencari Pertamax di Banjarmasin Kian Sulit, Ekonom Khawatir Inflasi

Zulvan Rahmatan • Rabu, 19 November 2025 | 14:04 WIB

MENGULAR: Antrean panjang pengendara motor tampak mengular untuk mendapatkan Pertamax di SPBU Jalan Pulau Laut Banjarmasin, Rabu (19/11/2025) pagi.
MENGULAR: Antrean panjang pengendara motor tampak mengular untuk mendapatkan Pertamax di SPBU Jalan Pulau Laut Banjarmasin, Rabu (19/11/2025) pagi.
BANJARMASIN - Pertamax padahal bahan bakar non subsidi, tapi di Banjarmasin belakangan permintaannya meroket tinggi dibanding Pertalite. Stoknya kerap habis, masyarakat pun jadi mengeluh.

Belum ada 24 jam, julukan berburu Pertamax seperti mencari harta karun dari Alya Aidina, makin hari malah bukan sekedar isapan jempol belaka.

Mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Islam Kalimantan (Uniska) Muhammad Arsyad Al Banjari (MAB) itu merasakan langsung animo masyarakat yang kerap haus berburu Pertamax.

“Berburu Pertamax seperti mencari harta karun, jika antre rasanya seperti bukan prioritas lagi,” sentil wanita berusia 20 tahun ini, Selasa (18/11/2025) kemarin.

Berburu Pertamax: Antrean Dimana-mana

Pantauan Radar Banjarmasin, Rabu (19/11), antrean panjang pengendara motor tampak mengular hingga keluar SPBU di Jalan Pulau Laut Banjarmasin.

Selama berjam-jam, mereka berharap dapat kebagian jenis bahan bakar dengan oktan RON 92 itu.

Salah satu pengendara yang sedang mengantre bahkan mengakui persaingan mendapatkan Pertamax di Banjarmasin terbilang ketat belakangan ini.

“Di mana-mana pasti antre. Di SPBU Masjid Raya tadi juga seperti ini,” ujar salah satu masyarakat yang enggan disebut namanya.

Hindari Dompet Terkuras

Selain itu, Mastania, warga Jalan Belitung juga ikut-ikutan berburu Pertamax ke SPBU di Pulau Laut. Ini dilakukan agar menghindari pembelian eceran yang dirasa lumayan menguras dompet.

“Sangat susah dapat Pertamax, di SPBU dekat rumah di Belitung itu dari kemarin sore habis terus. Kalau di eceran jadi agak mahal,” keluhnya.

Salah satu kekhawatiran Mastania ialah Pertalite yang belakangan bikin motor brebet atau ngadat.

Apalagi insiden itu pernah dialami suaminya sendiri yang bekerja sebagai driver ojek online (ojol) beberapa waktu lalu. 

Akibatnya, pasangan suami istri ini harus merugi. Motor yang digunakan untuk mencari nafkah sehari-hari harus dikuras dan diperbaiki. Ia hanya berharap situasi bisa kembali normal lagi.

Non Subsidi Rasa Subsidi

Bukan hanya Mastania, tapi Anto lebih niat lagi. Ia datang dari Basirih hanya untuk memanjakan motor sportnya dengan Pertamax di tengah antrean yang mengular panjang.

“Padahal Pertamax ini non subsidi, tapi malahan yang subsidi yang antreannya sepi. Dari awal motor ini selalu isi Pertamax, takut tidak cocok diisi Pertalite,” tuturnya.

Perbedaan minat Pertamax non subsidi dan Pertalite subsidi benar dirasakan Anto. Ia hanya berharap agar dapat Pertamax tak perlu sesusah ini lagi.

“Dulu antre Pertamax tidak panjang. Non subsidi berasa subsidi,” singgungnya.

Di sela-sela mencari orderan, Pamuji juga sempat-sempatnya mengantre. Jika tak begitu, ia khawatir tak kebagian.

“Pas narik lagi sepi ya kita antre. Ya semoga tidak antre panjang seperti ini lagi,” harap Pamuji yang berprofesi sebagai driver ojol ini.

SPBU Akui Permintaan Pertamax Meroket

Satu hingga dua minggu kebelakang sejumlah SPBU di Banjarmasin juga membenarkan bahwa permintaan Pertamax sedang meroket tinggi.

Meski mobil tangki Pertamax datang, stoknya tak bertahan lama, 80 ribu liter bisa ludes dalam hitungan jam sehari. 

Padahal sebelum perimtaan melambung, stok melimpah itu bisa bertahan dua hingga tiga hari.

“Kita tetap meminta ke depotnya, tergantung dari sananya saja lagi bisa mengirimkan tambahan atau tidak,” beber Rizal, Pengawas SPBU di Jalan Adhyaksa belum lama ini.

Di SPBU Jalan Benua Anyar juga mengalami peminatan serupa. Bahkan dipastikan stok Pertamax tak pernah dikurangi dari biasanya, tapi perburuannya yang belakangan merebak di mana-mana.

“Mobil-mobil juga terkadang ngisi full tank dari 30 liter sampai 35 liter. Kalikan saja dalam sehari, bagaimana tidak cepat habis, kalau ada sudah pasti diserbu,” ujar Lukman, Pengawas SPBU belum lama ini.

Ganggu Aktivitas Ekonomi

Pengamat Ekonomi asal Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin, Arief Budiman menilai ini merupakan respon ketakutan yang berlangsung di tengah masyarakat.

“Panic buying terhadap Pertamax jadinya ikut-ikutan untuk menghindari sepeda motor brebet atau rusak. Ini tentu mengganggu aktivitas ekonomi, seolah-olah terjadi rush,” tegasnya.

Magister pemasaran ini mengingatkan agar pihak-pihak terkait dapat membuka mata dan memandang dengan cermat.

Sebab dikhawatirkan, fenomena ini menimbulkan penambahan biaya yang dikeluarkan masyarakat selaku konsumen bahan bakar.

“Jangan dibiarkan karena bisa jadi sumber inflasi yang cukup dalam pada bulan ini. Hal ini akan mengganggu roda perekonomian di Kalsel,” cetusnya.

Akademisi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) ULM ini turut mendesak Pertamina agar meyakinkan masyarakat bahwa Pertalite clean atau bersih.

“Tegaskan bahwa tidak terjadi apa yang masyarakat takutkan. Kampanyelah yang baik. Kalau dibiarkan ini tentu mengganggu roda perekonomian masyarakat,” ungkapnya.

Di tengah ramainya isu ini, Arief justru merasa heran akan andil pemerintah yang belum mendesak Pertamina untuk mengklarifikasi hal demikian.

“DPR berhak menanyakan, mereka bisa memanggil Pertamina untuk memberi penjelasan dan meyakinkan. Fungsi DPR dan pemerintah harusnya bisa menanggulangi keresahan masyarakat,” pungkasnya.

Editor : Sutrisno
#pertalite #pertamax #banjarmasin