Staf Ahli Bidang Ekonomi dan Pembangunan Pemprov Kalsel, Miftahul Chair, mengatakan kenaikan ini dipengaruhi harga sejumlah komoditas utama, terutama emas perhiasan yang tengah mengalami tren kenaikan harga nasional.
"Ini bukan hanya terjadi di Kalsel, tapi juga nasional. Harga emas yang tinggi menjadi salah satu pendorong utamanya," ujar Chair usai mengikuti rapat koordinasi pengendalian inflasi daerah secara daring, Senin (17/11/2025).
Baca Juga: Bupati Banjar Larang Galang Dana Berkedok 5 Rajab di Sekumpul, Berlaku H-3 hingga H+3 Momen
Selain emas, komoditas pangan seperti cabai merah, ayam ras, dan telur ayam juga memberi andil signifikan. Tiga komoditas tersebut masih menunjukkan kenaikan harga dalam beberapa minggu terakhir.
Data BPS menunjukkan tingkat inflasi Kalsel dalam tiga bulan terakhir mengalami pola fluktuatif. Agustus 2025 mencapai 4,36 persen, September turun ke 2,91 persen, dan Oktober kembali naik menjadi 3,11 persen.
Meski sempat turun cukup dalam pada September, inflasi Kalsel kembali menguat di Oktober akibat tekanan komoditas emas dan pangan.
Chair menegaskan kondisi ini perlu diantisipasi lebih serius karena Desember selalu menjadi periode rawan inflasi.
Tahun ini, permintaan diperkirakan melonjak karena tiga momen besar terjadi dalam waktu berdekatan, yakni Natal, peringatan 5 Rajab Sekumpul, dan Tahun Baru.
"Permintaan pasti meningkat. Karena itu kebutuhan harus disiapkan dari sekarang," ucapnya.
Baca Juga: Forki Banjarmasin Gaspol! Ketum Benahi Organisasi, Genjot Latihan, hingga Siapkan Regenerasi Atlet
Salah satu upaya yang akan dilakukan dalam waktu dekat adalah gencar melakukan stabilisasi harga lewat operasi pasar.
"Kita akan kembali mengintensifkan operasi pasar dan memastikan ketersediaan pangan utama, terutama telur, daging, dan beras," lugasnya.
Selain itu, Chair turut menyinggung program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang ia nilai juga turut berpengaruh terhadap kebutuhan komoditas tertentu, terutama telur.
Menurutnya, semakin berkembang dan meluasnya pelaksanaan program MBG perlu diantisipasi dengan penguatan stok kebutuhan pangan.
"Sekarang memang belum semua unit beroperasi, tetapi ke depan saat berjalan penuh, kebutuhan telur akan meningkat. Ini harus kita antisipasi sejak dini," tandasnya. (*)
Editor : M. Ramli Arisno