Ada saja warga yang mengira semua persoalan bisa ditangani petugas damkar. Dari memasang lampu kos sampai minta bantuan mengatasi orang kesurupan.
Kepala Disdamkarmat Banjarmasin, Hendro menyebut, beberapa tahun terakhir jenis laporan yang masuk makin random. Bahkan, saking anehnya, kadang petugas cuma bisa saling pandang antara geli dan tak habis pikir.
“Kami pernah dapat telepon ibu kos minta dipasangkan lampu. Kemudian anak kos minta dipasangkan tabung gas dan laporan biasa lainnya yang sebenarnya bisa ditangani sendiri,” ujar Hendro, Jumat(7/11/2025).
Paling di luar nalar, lanjut dia, adalah laporan orang kesurupan. Pelapornya ngotot meminta damkar datang dan sembur air, karena dianggap iblis musuhnya damkar.
“Kami sudah bilang kalau soal ini panggil ustaz saja. Namun menurut pelapor iblis itu dari api, jadi musuhnya damkar untuk minta tolong disembur air,” terang Hendro sembari tersenyum.
Tak berhenti di situ. Pernah pula masuk laporan pertengkaran suami istri, permintaan bantu tangkap maling, bahkan ada yang datang langsung ke kantor cuma untuk minta uang ongkos pulang kampung.
Meski bukan tupoksinya, Hendro menegaskan petugas tetap merespons dengan ramah, lalu mencoba untuk mengarahkan pelapor ke instansi yang tepat.
“Misalnya perkelahian suami istri itu kami arahkan ke KUA atau kalau sudah membahayakan langsung ke kepolisian. Sama halnya penangkapan maling itu, kami bantu laporkan ke polisi,” jelasnya.
Hendro melihat fenomena ini dari sisi positif tingginya kepercayaan warga terhadap damkar. Dia bersyukur respon masyarakat seperti itu. Namun imbauannya jika laporan sederhana yang bisa dikerjakan sendiri, diharapkan dapat dikerjakan sendiri terlebih dulu.
“Kami tetap imbau masyarakat, kalau laporan biasa seperti masang lampu dan gas tadi ditangani sendiri saja dulu,” tandasnya.
Di atas semua keanehan itu, satu tugas tak berubah, damkar tetap standby 24 jam untuk musibah yang sebenarnya. Yakni ketika ada laporan musibah kebakaran.
"Semua layanan damkar tak dipungut biaya. Termasuk jika benar-benar harus turun tangan," pungkas Hendro.
Editor : Sutrisno