Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Kapasitas TPA Banjarbaru Tinggal Tiga Tahun, Warga Harus Kelola Sampah dari Rumah

Sheilla Farazela • Selasa, 21 Oktober 2025 | 10:34 WIB

PRAKTIK: Pengolahan sampah menjadi eco-enzim oleh akademisi dalam kegiatan peningkatan fungsi pengawasan di Aula Kelurahan Syamsudin Noor.
PRAKTIK: Pengolahan sampah menjadi eco-enzim oleh akademisi dalam kegiatan peningkatan fungsi pengawasan di Aula Kelurahan Syamsudin Noor.
BANJARBARU – Kapasitas Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Kota Banjarbaru diperkirakan hanya mampu menampung sampah selama tiga tahun ke depan.

Menyikapi ancaman tersebut, Anggota Komisi II DPRD Banjarbaru, Emi Lasari, SE, menegaskan pentingnya gerakan pengelolaan sampah yang dimulai dari rumah tangga.

"Kalau dibiarkan tanpa pengelolaan berkelanjutan, TPA kita hanya cukup tiga tahun lagi. Karena itu, pengelolaan sampah dari sumbernya jadi kunci," ujarnya dalam kegiatan peningkatan fungsi pengawasan terhadap Perda Nomor 5 Tahun 2023 tentang Pengelolaan Sampah, di Aula Kelurahan Syamsudin Noor, Senin (20/10/2025).

Baca Juga: DLH HST Uji Laboratorium Air Bersih Dapur MBG, Dari Lima Lokasi Ternyata Baru Tiga Dinyatakan Aman

Kegiatan bertema "Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber Menuju Banjarbaru Bersih dan Berkelanjutan" itu diikuti para pengurus bank sampah dari Kelurahan Landasan Ulin Timur dan Syamsudin Noor.

Acara turut menghadirkan narasumber dari Universitas Lambung Mangkurat (ULM) sekaligus pegiat lingkungan, Dr. Eng. Akbar Rahman, ST, MT.

Menurut Emi, Kota Banjarbaru saat ini memproduksi sekitar 192 ton sampah setiap hari, atau rata-rata 0,7 kilogram per orang.

Baca Juga: Hafidzah HST Mufidatul Husna Juara 1 STQ Nasional, Satu-satunya Wakil Kalsel yang Menang

Karena itu, keterlibatan masyarakat sangat penting untuk menekan timbunan sampah di TPA.

"Sampah rumah tangga menjadi penyumbang terbesar. Kalau dikelola sejak dari sumbernya, hasilnya akan signifikan. Selain mengurangi timbunan, masyarakat juga bisa mendapatkan nilai ekonomi," jelasnya.

Ia menambahkan, strategi yang kini didorong adalah memaksimalkan peran bank sampah. 

Baca Juga: Pecah Rekor 11.682 Orang Kunjungi CMSE 2025

Dalam kegiatan tersebut, peserta juga mendapat pelatihan mengolah sampah organik menjadi produk bernilai ekonomis seperti sabun, pupuk cair, dan eco-enzim.

Emi menegaskan, perubahan perilaku masyarakat menjadi faktor utama keberhasilan gerakan lingkungan ini.

"Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Bank sampah harus menjadi mitra utama dalam mewujudkan Banjarbaru yang bersih dan berkelanjutan," tegasnya.

Baca Juga: Muara Lahanin, Kampung Tua di Riam Kiwa yang Hilang dari Peta, Namun Tercatat di Dokumen Tua Belanda

Sementara itu, akademisi ULM Dr. Eng. Akbar Rahman menekankan perlunya perubahan pola pikir masyarakat dalam memperlakukan sampah.

"Mindset lama 'buanglah sampah pada tempatnya' sudah tidak relevan. Sekarang yang dibutuhkan adalah mengelola sampah dari rumah masing-masing agar tidak menumpuk di TPA," ujarnya.

Akbar menjelaskan, sampah anorganik seperti plastik dan botol dapat disetorkan ke bank sampah, sedangkan sampah organik bisa diolah menjadi produk ramah lingkungan menggunakan teknik komposter, biopori, takakura, hingga budidaya maggot.

Baca Juga: Pemkab Banjar Tanam Padi Anti Stunting, Varietas Kaya Zinc

"Ketika masyarakat mulai mengelola sampahnya sendiri, muncul banyak ide kreatif. Bahkan dari limbah rumah tangga bisa dihasilkan produk bernilai ekonomi. Sampah bisa jadi uang," tandasnya.

Saat ini, di Kecamatan Landasan Ulin tercatat terdapat 25 bank sampah aktif yang diharapkan mampu menjadi penggerak utama gerakan Banjarbaru Bersih dan Berkelanjutan. (*)

Editor : M. Ramli Arisno
#Emi Lasari DPRD #bank sampah Landasan Ulin #pengelolaan sampah Banjarbaru #sampah rumah tangga #TPA Banjarbaru penuh