BANJARMASIN – Laju inflasi di Banjarmasin sepanjang 2025 mengalami kenaikan menjadi 2,9 persen, dari sebelumnya 2,5 persen.
Kenaikan inflasi ini dampak permintaan bahan pangan untuk pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
"Program MBG ini bagus, tapi karena permintaan meningkat, akhirnya harga beberapa komoditas seperti ayam dan telur ikut terdorong naik," ujar Kabid Perdagangan Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagin) Banjarmasin, Faisal Akly pada Kamis (16/10).
Harga ayam potong yang sebelumnya di kisaran Rp32 ribu per ekor, naik menjadi Rp41 ribu pada September 2025. Begitu juga telur ayam, yang semula Rp31 ribu per kilogram kini menembus Rp38 ribu.
Meski begitu, Akly memastikan pasokan pangan masih aman dan terkendali. "Kami sudah antisipasi lewat pasar murah dan kerja sama dengan daerah penghasil, seperti Blitar dan Tanah Laut," katanya.
Kerja sama itu diatur dalam pola G to G (government to government) dan B to B (business to business) untuk memastikan suplai telur dan ayam tetap lancar. Bahkan, jalur distribusi juga dibantu oleh salah satu bank daerah, agar stok tidak tersendat.
"Sekarang pasokan telur dari Blitar dan Tala sudah masuk. Harga di Banjarmasin perlahan mulai stabil," jelasnya.
Sedangkan untuk menjaga daya beli masyarakat, Disperdagin rutin menggelar operasi pasar murah. "Pasar murah ini sudah menjangkau 52 kelurahan dan masih berlanjut sampai akhir tahun," pungkas Akly.
Editor: Syarafuddin
Editor : Arief