Pasalnya, banyak pelaku usaha punya produk bagus, tapi kalah di strategi dan digitalisasi.
Wakil Ketua Komisi II DPRD Banjarmasin, Hilyah Aulia, menilai banyak pelaku usaha kecil di kota ini sebenarnya punya produk potensial.
Baca Juga: 195 Anggota Satpol PP Banjarmasin Dites Urine Mendadak, Pastikan Bersih dari Narkoba
Sayangnya, mereka lemah dalam manajemen keuangan, pemasaran digital, hingga inovasi produk.
"Produk mereka banyak yang bagus, tapi tidak tahu cara mengemas atau memasarkan dengan baik. Tanpa pendampingan rutin, mereka sulit berkembang," ujarnya, Senin (13/10/2025).
Menurut politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini, bantuan modal tak cukup jika tidak dibarengi pembinaan berkelanjutan.
Baca Juga: DPRD Kotabaru Uji Lima Raperda Krusial, Rapat Paripurna jadi Ajang Adu Visi Politik
Karena itu, pelatihan yang diberikan pemerintah sebaiknya tidak sekadar seremonial, tapi benar-benar menjawab kebutuhan lapangan.
Mulai dari literasi keuangan, strategi digital marketing, pengelolaan stok, hingga sertifikasi halal dan legalitas usaha.
Lewat pelatihan berkala ini, diharapkan pelaku UMKM di Banjarmasin bisa lebih mandiri, tangguh, dan inovatif.
Baca Juga: Berebut Posisi Ketua Golkar Batola, Syarif Faisal dan Herman Susilo Siap Bersaing
"Kalau pembinaan dilakukan terus-menerus, UMKM kita bisa naik kelas. Bukan cuma tumbuh secara jumlah, tapi juga dalam hal kualitas dan profesionalisme," tambahnya.
DPRD juga mendorong Dinas Koperasi, Usaha Mikro, dan Tenaga Kerja menggandeng kampus, pelaku industri, hingga lembaga keuangan digital.
Tujuannya, agar kurikulum pelatihan UMKM lebih adaptif terhadap era industri 4.0.
"Pendampingan ini penting supaya UMKM Banjarmasin bisa go digital, punya akses ke pasar nasional bahkan internasional. Pemerintah harus hadir lewat anggaran yang jelas dan terukur," tegas Hilyah. (*)
Editor : M. Ramli Arisno