Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Banjarmasin Nyalakan Alarm Perang Melawan Stunting, Ini Enam Jurus Wali Kota Yamin

Endang Syarifuddin • Senin, 13 Oktober 2025 | 14:30 WIB

WAWANCARA: Wali Kota Banjarmasin, Muhammad Yamin.
WAWANCARA: Wali Kota Banjarmasin, Muhammad Yamin.
BANJARMASIN – Kasus stunting pada anak akibat gizi buruk terus membayangi masa depan generasi muda Banjarmasin. 

Enam jurus pun digeber untuk memangkas angka prevalensi stunting yang masih bertengger di 26,5 persen.

Pemerintah Kota (Pemko) Banjarmasin mulai menyalakan alarm perang melawan stunting. Wali Kota Muhammad Yamin menegaskan, penurunan angka stunting bukan sekadar program tahunan, tapi menjadi gerakan bersama yang harus dikerjakan lintas sektor.

“Konvergensi adalah kunci. Semua pihak harus bergerak satu arah,” tegas Yamin, Senin (13/10/2025) siang.

Mantan Wakil Ketua DPRD Kota banjarmasin mengingatkan, angka prevalensi stunting di Banjarmasin masih cukup tinggi, yakni 26,5 persen per 2024. 

Karena itu, dia mendorong Tim Percepatan Penurunan dan Pencegahan Stunting (TP3S) agar tak hanya bekerja di atas kertas, tapi bergerak nyata di lapangan.

Ada enam jurus yang kini digeber pemko. Pertama, seluruh kelurahan diminta segera mengaktifkan TP3S dan memastikan kegiatan pencegahan stunting berjalan tanpa jeda.

Kedua, menyusun pedoman serta jadwal monitoring dan evaluasi rutin agar sistem pelaporan makin kuat dan program tak melenceng dari sasaran.

Ketiga, memperkuat koordinasi lintas sektor. “Forum TP3S harus hidup, bukan formalitas. Semua indikator kinerja harus bisa diukur,” ucapnya.

Selanjutnya, dukungan anggaran juga jadi perhatian. Yamin memastikan tiap kecamatan dan kelurahan mendapatkan porsi dana memadai untuk intervensi sensitif dan spesifik terkait stunting.

Poin kelima, integrasi data. Basis data harus satu pintu agar tak ada tumpang tindih. Keluarga berisiko harus betul-betul mendapat intervensi.

“Terakhir, peningkatan kapasitas kader posyandu. Selain pembekalan, juga mendorong agar insentif mereka tidak terhambat. Bahkan CSR perusahaan pun diminta ikut turun tangan membantu,” ujarnya.

Menurutnya, stunting bukan hanya urusan Dinas Kesehatan (Dinkes) semata. Pendidikan, sosial, pekerjaan umum, hingga ketahanan pangan dan lingkungan hidup juga punya andil besar.

“Ini soal masa depan. Kalau anak-anak kita sehat dan tumbuh optimal, maka SDM kita kuat. Itulah pondasi menuju Banjarmasin Maju Sejahtera,” tandasnya.

Editor : Sutrisno
#banjarmasin #Stunting