Relawan Penanggulangan HIV Banjarbaru, Edi Sampana, mengungkapkan sebanyak 51 kasus HIV terdeteksi dalam kurun waktu tersebut.
Dari jumlah itu, sekitar 20 orang di antaranya bukan warga Banjarbaru.
“Semakin banyak ditemukan itu semakin baik, bukan semakin jelek. Artinya kita bisa mencegah penularan lebih dini,” ujar Edi.
Ia menjelaskan, tingginya angka temuan kasus justru menunjukkan keberhasilan tenaga kesehatan dalam melakukan deteksi dini.
Dengan penanganan sejak awal, pasien dapat segera mendapat pengobatan dan pendampingan sehingga potensi menularkan kepada orang lain bisa ditekan.
“Kalau terlambat ditemukan, misalnya di daerah dengan angka rendah, kemungkinan besar penularan masih terus terjadi,” tambahnya.
Saat ini, Banjarbaru menempati posisi kedua kasus HIV tertinggi setelah Banjarmasin. Posisi ketiga ditempati Kabupaten Banjar, disusul Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST).
Edi menegaskan, pentingnya penyuluhan dan pemeriksaan dini karena HIV memiliki masa inkubasi panjang. Gejala baru muncul dua hingga lima tahun setelah seseorang tertular.
“Pada dua tahun pertama penderita masih terlihat sehat, sedangkan setelah lima tahun umumnya mulai sakit-sakitan,” jelasnya.
Menurutnya, sinergi antara tenaga kesehatan dan masyarakat sangat dibutuhkan agar kasus HIV dapat ditemukan sedini mungkin.
Editor : Sutrisno