Tak main-main, dua perusahaan disebut-sebut sudah melirik hasil olahan itu.
Wali Kota Banjarmasin, Muhammad Yamin, mengungkapkan perusahaan yang berminat adalah Wijaya dan Indosemen. Keduanya tertarik memanfaatkan RDF dari Banjarmasin sebagai bahan bakar alternatif pembangkit tenaga listrik.
“Sudah ada pembicaraan awal, tapi masih tahap MoU. Teknisnya nanti lewat Banjarmasin Recycle Center (BRC),” ucap Yamin saat ditemui Radar Banjarmasin, belum lama tadi.
Menurutnya, RDF bakal menjadi komoditas baru yang bisa membantu mengurangi tumpukan sampah sekaligus menghasilkan nilai ekonomi.
Namun, pemko tidak mau gegabah. Karena untuk pengolahan RDF dibutuhkan sarana dan prasarana yang mumpuni. Sehingga perlu perhitungan yang cermat terutama untuk kegunaannya.
“Kita harus pastikan dulu peralatan yang dibutuhkan benar-benar siap. Jangan sampai sudah dibeli, tapi belum bisa dipakai. Kalau memang berfungsi, pasti kita anggarkan di APBD Perubahan,” tegasnya.
Ketua DPC Gerindra Kota Banjarmasin ini menambahkan, langkah ini juga terkait upaya pemko menyelesaikan persoalan darurat sampah. Sejak TPAS Basirih ditutup, penanganan sampah terus digenjot.
“Kalau pengolahan RDF ini jalan, otomatis beban sampah kota bisa berkurang signifikan. Sekaligus ada manfaat ekonomi bagi daerah,” pungkasnya.
Sejak penutupan Tempat Pembuangan Akhir (TPAS) Basirih, berbagai upaya pembenahan memang sudah berjalan, namun hasil akhirnya dirasakan masih belum optimal. Pihaknya hingga kini masih mencari, sehingga dapat dirumuskan langkah strategis yang akan dilakukan.
“Berbagai pembenahan itu sudah kami kerjakan, bahkan sudah dilaporkan ke pusat dalam bentuk laporan tertulis. Jadi, pusat tahu progres yang dilakukan pemko. Dari situlah nanti pusat bisa mengambil keputusan apakah darurat sampah ini dicabut atau belum,” tutup Yamin.
Editor : Sutrisno