BANJARMASIN — Banjarmasin menempati peringkat ke-9 dalam daftar kota dengan biaya transportasi tertinggi di Indonesia, berdasarkan Survei Biaya Hidup 2018 dari Badan Pusat Statistik (BPS).
Rata-rata, warga menghabiskan sekitar Rp852 ribu per bulan untuk transportasi, atau setara 11,09 persen dari total biaya hidup.
Di atas Banjarmasin, ada Balikpapan di posisi ke-8 dengan pengeluaran transportasi Rp982 ribu (11,51 persen), sementara Surakarta berada di peringkat ke-10 dengan Rp713 ribu (10,27 persen).
Depok menempati posisi teratas dengan biaya transportasi mencapai Rp 1,8 juta per bulan, atau 12,54 persen dari total pengeluaran rumah tangga.
Di Banjarmasin, tingginya biaya transportasi disebabkan oleh dominasi penggunaan kendaraan pribadi.
Dalam satu dekade terakhir, angkutan umum dalam kota mengalami penurunan drastis. Sementara kemudahan kredit kendaraan mendorong masyarakat beralih ke transportasi pribadi.
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Banjarmasin, Slamet Begjo tidak menepis fakta tersebut.
Menurutnya, salah satu penyebab utama tingginya biaya transportasi di Banjarmasin tersebab minat warga terhadap transportasi umum masih rendah.
"Saat ini kami terus melakukan sosialisasi dan peningkatan layanan agar transportasi publik bisa menjadi pilihan utama warga," ujar Slamet, Rabu (6/8).
Selain itu, ia mengakui belum terintegrasinya sistem angkutan umum yang ada saat ini juga menjadi persoalan lain.
"Sistem angkutan belum terkoneksi, belum terintegrasi, dan sistem pembayarannya pun masih terpisah-pisah," katanya.
Ia mencontohkan, penumpang yang hendak bepergian dari kawasan Kayu Tangi ke Terminal Pal 6 harus transit lebih dulu di Pasar Sentra Antasari.
Akibatnya, penumpang terpaksa membayar dua kali: pertama saat naik angkutan menuju terminal, lalu membayar lagi untuk melanjutkan perjalanan ke tujuan akhir.
"Ketika berganti angkutan, penumpang harus bayar lagi. Inilah yang membuat transportasi kita mahal dan tidak efisien," ujarnya.
Slamet menyebut, pihaknya kini tengah menjalin koordinasi dengan Pemprov Kalimantan Selatan untuk merancang sistem transportasi terintegrasi, termasuk dalam hal pembayaran.
"Jika ke depan sistem pembayaran bisa disatukan, maka masyarakat cukup bayar sekali untuk satu perjalanan, meski harus berganti armada," ucapnya.
Saat ini, Banjarmasin memiliki empat koridor utama angkutan umum: Terminal Pasar Sentra Antasari – Terminal Km 6, Terminal Pasar Sentra Antasari – Halte RSUD Ansari Saleh, Halte Teluk Tiram – Halte Sungai Andai, Terminal Pasar Sentra Antasari – Halte Mantuil.
Dari total 17 unit armada yang tersedia, Slamet mengakui tidak semuanya dalam kondisi laik operasional. Beberapa mengalami kerusakan akibat usia dan pemakaian terus-menerus.
"Yang aktif beroperasi saat ini lebih dari 10 unit," katanya.
Dishub menargetkan ke depan jumlah koridor akan ditambah, dan sistem angkutan bisa terintegrasi penuh, baik dari sisi rute, armada, hingga sistem pembayaran.
Editor: Syarafuddin
Editor : Arief