Sekitar 15 rumah di Kampung Hijau, Sungai Bilu, Banjarmasin Timur, terisolir. Setelah titian sepanjang 80 meter penghubung RT 2 dan RT 3 ambruk pada Rabu (6/8) petang.
****
BANJARMASIN – Ketua RT 2 Sungai Bilu, Miftahul Arifin mengatakan, tanpa titian kayu yang menjadi satu-satunya akses tersebut, puluhan warga tidak bisa keluar masuk kampung.
Baca Juga: Titian Utama Kampung Hijau Ambruk, Ketua Komisi III DPRD Banjarmasin Desak Percepatan Perbaikan
Solusi sementara, warga Kampung Hijau mesti menggunakan jalur sungai, naik perahu bermesin.
"Akan disiapkan perahu untuk mereka. Tadi juga ada tambahan (speedboat) dari utusan Wali Kota," ujar Miftah.
Ia telah melaporkan kejadian ini kepada lurah dan instansi terkait, guna memastikan pasokan air bersih dan listrik tetap aman.
Insiden ini mengejutkan warga RT 3 Kampung Hijau. Salah seorang warga terdampak, Abdullah mengaku rumahnya tak bisa lagi dijangkau.
Bersama istri dan ketiga anaknya ia terpaksa mengungsi ke rumah tetangga. "Sementara tidak bisa lewat, akses putus total," ujarnya.
Selain rumah yang tak bisa diakses, distribusi air bersih juga macet. "Meteran air tenggelam dan rusak akibat dibawa titian yang runtuh," kata Ina, warga lainnya.
Baca Juga: DPRD Kota Banjarmasin Minta Proyek Titian Tak Asal Jadi
Meski tidak ada korban jiwa, beberapa warga sempat tercebur ke air saat titian ambruk.
"Seketika ambruk begitu saja, beruntung warga yang tercebur itu bisa berenang," ucap Rizkan, warga Kampung Hijau.
Rizkan mengaku tak mengetahui dengan pasti penyebab ambruknya titian tersebut.
Kurniadi, warga lainnya, mengira awalnya terjadi gempa saat mendengar suara keras dari luar rumah.
"Lagi dalam rumah, tiba-tiba ada suara 'brak!' Kami kira gempa karena rumah kami bergoyang, ternyata titian ambruk," tuturnya.
"Air ledeng dan aliran listrik juga terputus. Kami berharap pihak terkait bisa cepat menangani," imbuhnya.
Baca Juga: Titian Utama Kampung Hijau Ambruk, Ketua Komisi III DPRD Banjarmasin Desak Percepatan Perbaikan
Pantauan Radar Banjarmasin, badan titian berikut pagarnya tenggelam ke Sungai Martapura. Tiang penerangan jalan juga tercebur ke sungai.
Banyak warga menduga ambruknya titian itu akibat gagalnya upaya mitigasi dalam proyek perbaikan titian.
Mereka menyebut, beberapa bagian titian sempat dipotong, tanpa penyangga akhirnya runtuh.
Untuk diketahui, titian Kampung Hijau yang kini ambruk sudah miring sejak tahun 2022 lalu.
Pada September 2024, perbaikan darurat dilakukan, tetapi hanya sepanjang 7 meter.
Titian yang miring kerap tergenang saat Sungai Martapura pasang. Ketinggiannya bisa mencapai lutut orang dewasa. Jalan yang licin karena lumut menambah risiko.
Kerusakan mulai diperbaiki Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Banjarmasin sejak akhir bulan Juli 2025 lalu. Namun beberapa hari setelah mulai diperbaiki, titian keburu ambruk.
Baca Juga: DPRD Kota Banjarmasin Minta Proyek Titian Tak Asal Jadi
PUPR Bantah Dugaan Warga
Kepala Bidang Cipta Karya PUPR Banjarmasin, Damaiyanti menegaskan pihaknya sudah melakukan perbaikan sebelum titian Kampung Hijau ambruk.
Perbaikan itu mencakup bagian titian yang miring sepanjang 68 meter, dengan alokasi anggaran sekitar Rp2 miliar. Anggaran tersebut juga meliputi penataan lingkungan di sekitar lokasi.
Namun, apakah ambruknya titian ini berkaitan dengan pekerjaan perbaikan?
"Kalau dibilang imbas, sepertinya tidak," tegas Damaiyanti, kemarin malam.
Titian, kata dia, sudah miring sebelum runtuh.
Pihaknya memang sempat memotong bagian atas titian, namun hanya sebatas beton di bagian badan atas, bukan sampai ke struktur utama.
Baca Juga: Titian Utama Kampung Hijau Ambruk, Ketua Komisi III DPRD Banjarmasin Desak Percepatan Perbaikan
"Kami hanya potong bagian atasnya saja, tidak sampai ke gelagar. Beton yang kami potong pun bukan bagian dari struktur awal titian, itu hanya pelapis tambahan yang mengikat dengan struktur utama titian."
Ia menduga, pondasi bawah titian sudah dalam kondisi menggantung, sehingga goyah. Aktivitas warga serta arus sungai yang deras juga turut memperparah kondisi hingga akhirnya ambruk.
Untuk solusi sementara, PUPR akan membangun jalan darurat untuk dua buah rumah yang terisolir. Sementara rumah lainnya, menurut Damaiyanti, masih memiliki akses jalan alternatif.
Editor: Syarafuddin
Editor : Arief