BANJARMASIN — Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagin) Banjarmasin mengatakan beberapa merek beras oplosan telah ditarik dari pasaran.
"Sudah ditarik oleh produsennya langsung," kata Kepala Bidang Penguatan dan Pengembangan Perdagangan Banjarmasin, Faisal Akly, pada Selasa (5/8).
Sebelumnya, Disperdagin melakukan pemantauan pertama pada 17 Juli lalu di sejumlah ritel modern. Hasilnya, ditemukan enam merek beras yang diduga tidak sesuai label alias oplosan.
"Pada akhir Juli, kami kembali melakukan pengawasan. Hasilnya, sebagian merek sudah tidak beredar lagi," ujar Faisal.
Ia menyebutkan, setidaknya dua merek sudah hilang dari peredaran. Sementara satu merek lainnya ditarik lalu dikemas ulang. Kemasan baru ini diklaim lebih meyakinkan konsumen.
Namun Faisal enggan membeberkan nama-nama merek tersebut.
Tiga produsen yang berasnya diduga oplosan, kata dia, juga telah mengirimkan surat klarifikasi. Mereka menyatakan, produk mereka merupakan beras premium, sesuai label yang tertera.
Meski sebagian merek beras yang diduga oplosan dikabarkan telah ditarik dari pasaran, pantauan Radar Banjarmasin menunjukkan masih ada yang beredar di sejumlah toko sembako.
Di kawasan Cemara, Banjarmasin Utara, misalnya, beras merek Fortune masih dijual di salah satu toko sembako.
Penjualnya, Ahmad Raisan bilang, beberapa merek memang sempat ditarik oleh produsen. Salah satunya merek Siip.
"Beberapa waktu lalu memang ada yang ditarik, kayak Siip itu. Tapi sekarang ada lagi merek Fortune," ujar Raisan, Selasa (5/8).
Menariknya, harga beras tersebut kini dipasarkan lebih murah dari sebelumnya. Awalnya dijual seharga Rp78.000 per sak, kini hanya Rp75.000.
Penurunan harga ini, katanya, merupakan arahan dari pihak produsen. "Setelah harganya turun, banyak yang beli," ucapnya.
Beras merek Fortune juga masih ditemukan di sebuah toko sembako di Kelayan A, kawasan Banjarmasin Selatan.
Namun, menurut penjual bernama Lidya, stok tersebut bukan barang baru. "Itu sisa stok lama dari Januari, tinggal empat sak saja," ujarnya.
Lidya mengaku tidak lagi tertarik menjual beras-beras serupa karena kurang diminati pembeli.
Ia lebih memilih memasok merek lain yang lebih laris di pasaran. "Kami sekarang lebih banyak ambil LopoIjo atau Melon. Karena itu yang paling dicari orang," tandasnya.
Pada hari yang sama, di Jakarta, Satgas Pangan Polri mengumumkan tiga tersangka. Seluruhnya pimpinan perusahaan produsen beras premium merek Sania, Sovia, dan Fortune.
Kepala Satgas Pangan Polri Brigjen Pol Helfi Assegaf mengatakan ketiga tersangka tersebut adalah S selaku presiden direktur PT Padi Indonesia Maju (PIM), AI selaku kepala pabrik, dan DO selaku kepala quality control di perusahaan tersebut.
PT PIM disebut sebagai produsen beras premium berbagai merek yakni beras merek Sania, Fortune, hingga Sovia.
Penyidik mendapati produk beras premium keluaran PT PIM yang beredar di pasar tradisional maupun ritel modern tidak memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) sebagaimana diatur dalam Permentan Nomor 31 Tahun 2017 dan Perbadan Nomor 2 Tahun 2023.
Editor: Syarafuddin
Editor : Arief