Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Rp580 Juta untuk Normalisasi Sungai Tatas Banjarmasin

Riyad Dafhi Rizki • Senin, 21 Juli 2025 | 15:40 WIB

MENGERUK: Ekskavator amfibi menormalisasi Sungai Tatas, yang mengelilingi kawasan Masjid Raya Sabilal Muhtadin. (Riyad Dafhi Rizki/Radar Banjarmasin)
MENGERUK: Ekskavator amfibi menormalisasi Sungai Tatas, yang mengelilingi kawasan Masjid Raya Sabilal Muhtadin. (Riyad Dafhi Rizki/Radar Banjarmasin)
BANJARMASIN — Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Banjarmasin tengah mengerjakan proyek normalisasi Sungai Tatas, yang mengelilingi kawasan Masjid Raya Sabilal Muhtadin. 

Normalisasi dilakukan untuk memelihara kapasitas sungai supaya cukup menampung limpasan air yang kerap menyebabkan genangan di area depan Mahligai Pancasila.

Kepala Dinas PUPR Banjarmasin, Suri Sudarmadiyah menjelaskan, pengerjaan telah dimulai sejak pertengahan Mei, dari samping rumah dinas Kapolda dan dilanjutkan ke sepanjang Sungai Tatas. 

Proyek ini ditargetkan rampung pada pertengahan September 2025. "Ini bagian dari program prioritas Wali Kota Muhammad Yamin dan Wakil Wali Kota Ananda," ujar Suri, Senin (21/7).

Anggaran yang dikucurkan untuk proyek ini sebesar Rp580 juta. Pengerukan dilakukan dengan kedalaman 1 meter dan lebar 5 meter. 

Dalam setiap 10 meter, volume pengerukan mencapai sekitar 50 meter kubik. 

"Target total pengerukan mencapai 2.800 meter kubik," katanya.

Namun, proses pengerjaan di lapangan tidak sepenuhnya mulus. Banyaknya penghalang seperti kabel dan pohon di sepanjang bantaran sungai menyulitkan akses alat berat.

"Awalnya kami menggunakan ekskavator long arm, tapi karena banyak hambatan, alat harus terlalu sering maju mundur, sehingga memakan waktu," jelas Suri.

Sebagai solusi, PUPR menerjunkan ekskavator amfibi berukuran kecil. Meski tidak bisa mengeruk dalam jumlah besar sekaligus, alat ini bisa bekerja lebih fleksibel dan dengan frekuensi lebih sering.

“Pengerukannya sedikit demi sedikit, tapi bisa dilakukan lebih intens. Itu yang kami andalkan sekarang,” tutupnya.

Editor : Sutrisno
#proyek #banjarmasin #pupr