Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Heboh Beras Oplosan, Pedagang di Banjarmasin: Sejak Dulu Memang Tidak Laku

Riyad Dafhi Rizki • Kamis, 17 Juli 2025 | 10:52 WIB
TIDAK LAKU: Pedagang sembako di Jalan Cemara Raya, Banjarmasin Utara, menunjukkan salah satu merek beras “oplosan”.
TIDAK LAKU: Pedagang sembako di Jalan Cemara Raya, Banjarmasin Utara, menunjukkan salah satu merek beras “oplosan”.

BANJARMASIN — Kementerian Pertanian (Kementan) mengungkap temuan 212 merk beras yang diduga melanggar standar mutu.

Temuan ini hasil pemeriksaan lapangan yang dilakukan Kementan bersama Satgas Pangan Polri.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman menyatakan berbagai merek tersebut tidak memenuhi standar berat kemasan, komposisi, dan labelisasi.

Beberapa merek, pada kemasannya tertera 5 kilogram, padahal isinya hanya 4,5 kg. 

Lalu banyak di antaranya mengklaim beras premium, padahal sebenarnya berkualitas biasa.

Beras oplosan adalah campuran beras dari beberapa jenis atau kualitas berbeda yang kemudian dijual dengan label beras premium atau medium, namun tidak sesuai dengan isi sebenarnya.

Di balik kemasan rapi dan klaim meyakinkan, konsumen sebenarnya tengah dirugikan. Harga yang dibayar tak sebanding dengan kualitas yang diperoleh.

Modus ini tidak hanya merugikan konsumen secara kualitas, tetapi juga menyebabkan kerugian ekonomi yang diperkirakan mencapai Rp99 triliun per tahun.

Beberapa nama besar terseret dalam kasus ini. Merek-merek seperti Sania, Sovia, Fortune, dan Siip yang diproduksi Wilmar Group; Setra Ramos, Beras Pulen Wangi, dan Setra Pulen milik Food Station Tjipinang Jaya; serta Raja Platinum dan Raja Ultima milik PT Belitang Panen Raya turut disebut oleh Mentan. Ada pula Ayana dari PT Sentosa Utama Lestari, anak usaha Japfa Group.

Merek-merek ini contoh dari 212 merek beras yang akan diumumkan secara resmi dan bertahap kepada publik.

Lalu, bagaimana di Kota Banjarmasin?

Radar Banjarmasin mendatangi beberapa ritel modern seperti Alfamart, Alfamidi, dan Indomaret. Hasilnya, terdapat beberapa merek beras yang diduga oplosan dijual di tempat-tempat ini, seperti: Sania, Setra Ramos, Setra Pulen, dan Raja Platinum.

Tak hanya di ritel modern, produk-produk ini juga ditemukan di toko sembako di kawasan Jalan Cemara Raya, Banjarmasin Utara.

Penjualnya, Ahmad Raisan mengakui dirinya memang pernah menjual beras merk Sania, Fortune, dan Siip.

Namun, kata Raisan, merek-merek itu cukup sulit untuk dijual. "Peminatnya kurang, jadi kadang cuman menstok sedikit," ujarnya, Rabu (16/7).

Saat ini, di rak tokonya masih tersisa empat bungkus beras Siip, sisa stok yang belum terjual.

Ia mengatakan tidak akan menjual merek-merek itu lagi setelah masalah ini ramai diberitakan.

Sejumlah toko distributor dan pedagang pasar tradisional di Banjarmasin mengaku sudah lebih dulu menghentikan penjualan merek-merek tersebut.

Alasannya sama, karena kurang laku. "Saya sudah hampir setahun tidak jual lagi. Lakunya lambat," ujar Maslihah, pedagang beras di Pasar Pagi di Jalan Kelayan Luar, Banjarmasin Selatan.

Senada dengan Sudiman Saleh, pedagang di lokasi yang sama, mengatakan tokonya juga sudah berhenti menjual beras dari merek-merek yang kini tengah jadi sorotan.

Namun, di sisi lain, kabar ini juga membuat beras berkualitas tinggi seperti Lapoijo jadi langka di pasaran.

Saat dikonfirmasi, Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagin) Kota Banjarmasin, Ichrom Muftezar belum memberikan tanggapan mengenai isu ini.

Editor: Syarafuddin

 

Editor : Arief
#Sembako #Penipuan #banjarmasin #pedagang #oplosan #Beras