BANJARMASIN - Langkah kaki Wali Kota Banjarmasin, Muhammad Yamin terhenti di depan sebuah ruang kelas. Atapnya bocor, dindingnya retak, dan bau tak sedap menguar dari toilet.
Inilah pemandangan yang dilihatnya ketika berkunjung ke dua sekolah, SDN Mawar 4 di Jalan Dahlia Kebun Sayur dan SMPN 33 Banjarmasin di Jalan Purnasakti.
"Kita ingin anak-anak belajar di tempat yang nyaman dan aman. Tapi kenyataannya, masih banyak ruang kelas yang rusak, WC yang tidak layak, dan bangunan yang butuh perbaikan. Ini harus menjadi prioritas," tegas Yamin usai meninjau sekolah di hari pertama tahun ajaran baru, Senin (14/7).
Melihat kondisi tersebut, Yamin meminta Dinas Pendidikan segera mendata kondisi fisik sekolah di seluruh kecamatan.
Ia menekankan bahwa perhatian terhadap infrastruktur pendidikan tidak kalah penting dari peningkatan kualitas pengajaran.
"Kita tidak bisa membiarkan anak-anak belajar dalam kondisi ruang kelas yang rusak. Pemko akan segera menyusun langkah cepat untuk perbaikan. Kita ingin pembahasan dimulai tahun ini, supaya bisa langsung dikerjakan awal 2026," ujarnya.
Plt Kepala Disdik Kota Banjarmasin, Ryan Utama membenarkan banyak ruang kelas di SD dan SMP yang kondisinya mengkhawatirkan. Misalnya kerusakan pada lantai, plafon, dan jendela. Dan tak sedikit ruang kelas yang sudah tidak layak ditempati.
"Demi keselamatan, kami sudah meminta siswa dipindahkan dari ruang-ruang kelas yang berisiko. Standar keamanan sekolah harusnya sudah setara dengan sekolah-sekolah di tengah kota, seperti di kawasan Mulawarman," ujar Ryan.
Ia menyatakan pihaknya akan segera menyusun skala prioritas untuk perbaikan. Fokus utama akan diberikan pada ruang kelas yang rusak parah dan berpotensi membahayakan siswa.
"Memang tidak bisa diperbaiki sekaligus, tapi kita mulai dari yang paling mendesak," pungkasnya.
Selain dua sekolah ini, Radar Banjarmasin mencatat, masih banyak sekolah lain di Kota Seribu Sungai yang menghadapi masalah serupa, bahkan lebih parah.
Salah satunya SDN Melayu 5 di Jalan Veteran, yang dilanda kebakaran hebat pada Juli 2024 lalu. Ruang kelas, kantor guru, perpustakaan, hingga usaha kesehatan sekolah (UKS) hangus terbakar.
Akibatnya, beberapa kelas harus digabung, dan jam belajar terpaksa dikurangi. Saat hujan turun, air merembes dari atap ke ruang guru dan perpustakaan, memperparah situasi.
Lalu SDN Teluk Dalam 3 di Jalan Batu Damar yang menghadapi kerusakan serius pada atap bangunan dan laboratorium komputer.
Ruangan yang seharusnya menjadi tempat siswa mengasah keterampilan teknologi itu kini tidak bisa digunakan.
Saat hujan, air kembali jadi ancaman. Ruang kelas dan guru kerap kebanjiran. Ditambah meja dan kursi yang lapuk, proses belajar jauh dari kondisi ideal.
Lalu, SDN Mawar 7 di Jalan Cempaka IX, fondasi sekolah unggulan ini mengalami kerusakan hingga 68 persen.
Kondisi serupa terjadi di SDN Karang Mekar 1 di Jalan Pangeran Antasari, di mana sistem belajar bergilir harus diberlakukan karena ruang kelas yang rusak parah. Retakan besar di salah satu bangunan sekolah diduga berasal dari fondasi yang rusak. Meski kerusakan ini sudah terjadi sejak tahun lalu, hingga kini belum ada upaya perbaikan berarti.
Akses menuju sekolah pun menjadi tantangan tersendiri. Seperti di SDN Sungai Jingah 5 di Jalan Sungai Andai. Jalan sempit yang kerap tergenang banjir menjadi hambatan harian bagi siswa dan guru.
Kondisi lebih ekstrem terjadi di SDN Basirih 10 di Simpang Sungai Jelai. Dengan akses jalan berlumpur sepanjang 700 meter, sepatu basah dan baju kotor menjadi bagian dari rutinitas siswa.
Editor: Syarafuddin
Editor : Arief