BANJARMASIN – Proyeksi pendapatan Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Pasar Baiman sebesar Rp13,7 miliar di tahun 2025 dipertanyakan Badan Anggaran (Banggar) DPRD Kota Banjarmasin.
Pasalnya, setelah dikalkulasi dengan beban operasional, potensi laba bersih yang tersisa hanya sekitar Rp871 juta.
Ketua DPRD Kota Banjarmasin yang juga pimpinan Banggar, Rikval Fachruri, menilai angka tersebut tidak sebanding.
"Memang tidak rugi saja sudah untung, tapi ya jangan begitu juga. Ini bukan sekadar survive, tapi harus tumbuh," ujarnya usai rapat Banggar, Sabtu (4/7) sore.
Ia memahami beban operasional yang tinggi membuat potensi laba Perumda menjadi sangat kecil. Berbeda ketika dipegang Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperdagin) yang mampu menyetor ke daerah Rp8 miliar lebih tanpa harus mengeluarkan ongkos operasional.
Maka, Rikval meminta agar jajaran direksi dan manajemen mampu menyesuaikan diri dan melakukan efisiensi seketat mungkin.
Misalnya fasilitas penunjang kerja seperti mobil dinas dan BBM yang sangat besar. Ia menyarankan agar perumda sementara waktu bisa memanfaatkan fasilitas milik pemko.
"Pinjam saja dulu dari pemko. Kalau memang harus pakai mobil, ya pakai saja yang ada. Jangan dulu beli macam-macam. Kecuali kalau perusahaan sudah besar," ujarnya.
"Namanya juga perusahaan baru, ya jangan boros. Biaya operasional kalau bisa ditekan, ya tekan semaksimal mungkin," tegasnya.
Selain efisiensi, ia juga menuntut penyesuaian strategi bisnis. Kendati usia perusahaan milik daerah ini baru tujuh bulan, seharusnya sudah memiliki rencana bisnis yang konkret dan progres pertumbuhan yang terukur tiap bulan.
"Sebuah perusahaan harus ada target dan proyeksi. Setelah tiga bulan berjalan, harusnya sudah kelihatan arahnya," tegas Rikval.
Banggar pun mendorong agar Perumda menyusun SOP dan KPI (key performance indicator) sebagai tolok ukur kinerja internal. "Harus ada sistem kerja yang terukur, KPI itu penting, supaya kinerja direksi dan staf bisa dinilai," katanya.
Sorotan juga datang dari anggota Banggar lainnya, Faisal Heriyadi. Ia meminta agar biaya operasional jangan terlalu besar dan menyoroti fokus bisnis perumda yang masih mengandalkan sektor bahan pangan pokok.
"Kalau masih mengandalkan sembako terus, sulit bersaing. Saingan sudah banyak. Mending cari terobosan lain, yang lebih rasional dan sesuai kapasitas," sarannya.
Faisal berharap masih ada waktu di sisa tahun 2025 bagi Perumda Pasar untuk berbenah. "Bukan cuma jalan di tempat, tapi harus ada lompatan," pintanya.
Menanggapi saran dan kritik Banggar, Direktur Utama Perumda Pasar, Muhammad Abdan Syakura mengakui pentingnya efisiensi dan menyatakan kesiapannya melakukan penyesuaian dalam Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) Perubahan.
"Tentu kami akan revisi mana yang prioritas, mana yang bukan. Seperti pemeliharaan truk, BBM, bahkan mobil dinas pun akan dievaluasi," janji Abdan.
Soal lain, Abdan menjelaskan pihaknya memang tetap menjual sembako sebagai bentuk intervensi harga ketika terjadi inflasi. Namun, ia memastikan perumda tidak akan terpaku di sektor itu.
"Kita memang bersaing dengan pemain lama yang sudah kuat. Tapi sembako bukan kita tinggalkan, tetap ada dan menambah bisnis lainnya," jelasnya.
Sebagai alternatif, Perumda siap mengeksekusi bisnis reklame yang akan dimulai pada Juli ini. "Itu salah satu upaya kita membuka potensi pendapatan baru," katanya.
Meski masih baru, ia berkomitmen membawa Perumda Pasar Baiman menjadi badan usaha yang sehat dan bertumbuh. "Masukan dari dewan sangat progresif. Kami sangat terbantu," tutup Abdan.
Editor: Syarafuddin
Editor : Arief