Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Pernah Digusur Pakai Alat Berat, Pembatuan Banjarbaru Malah Makin Menggeliat

Sutrisno • Kamis, 19 Juni 2025 | 09:37 WIB
DIAMANKAN: Satpol PP Banjarbaru saat mengamankan PSK di eks Lokalisasi Pembatuan, Rabu (18/9). (Foto: Satpol PP Banjarbaru)
DIAMANKAN: Satpol PP Banjarbaru saat mengamankan PSK di eks Lokalisasi Pembatuan, Rabu (18/9). (Foto: Satpol PP Banjarbaru)

BANJARBARU - Sebelum ditutup pada 2016, upaya penutupan Pembatuan sebenarnya sudah dilakukan sejak lama. Akan tetapi usaha esek-esek di sana masih saja menggeliat.

"Sejak PSK-nya masih sedikit sampai sekarang, pemerintah selalu ingin menutup Pembatuan. Tapi sampai sekarang tidak bisa, karena apa? Karena pemerintah hanya bisa berupaya menutup tanpa ada solusi,” ungkap tokoh warga di Pembatuan, Paimin saat diwawancarai Radar Banjarmasin beberapa waktu lalu.

Mantan Ketua RT 06 Kelurahan Landasan Timur periode tahun 2000 hingga 2013 tersebut mengungkapkan, pemerintah pertama kali melakukan penggusuran sekitar tahun 1980. Kala itu praktik prostitusi di Jalan Kenanga baru berkembang selama beberapa bulan.

"Dulu hanya ada delapan rumah bordil, lalu digusur oleh pemerintah dengan menggunakan alat berat," ungkapnya.

Usai digusur, ternyata praktik prostitusi di Pembatuan malah semakin berkembang. Ratusan PSK datang dalam kurun satu tahun, sehingga bukan hanya pekerja jauh dari istri saja yang datang ke sana. "Siang, malam. Banyak orang datang untuk menyalurkan hasrat biologis mereka. Kalau malam seperti pasar," kata Paimin.

Ia mengungkapkan, setelah bertahun-tahun praktik prostitusi dibiarkan. Kemudian pada tahun 2002, Pemko Banjarbaru di bawah kepemimpinan Rudy Resnawan melakukan gebrakan dengan cara menutup Lokalisasi Pembatuan. "Saat itu diterbitkan juga Perda larangan melakukan praktik prostitusi, sejak saat itulah daerah ini menjadi eks Lokalisasi," ungkapnya.

Namun, penutupan tersebut mendapatkan kecaman dari warga sekitar. Sebagian besar warga menolak Pembatuan ditutup, hingga beberapa kali melakukan demo. "Warga menolak, karena pemerintah hanya bisa menutup tanpa ada solusi," ujar bapak tiga anak ini.

Lantas, mengapa diberi nama Pembatuan? Menurut sumber Radar Banjarmasin yang enggan menyebutkan namanya, Pembatuan memang berkaitan dengan batu.

Dikisahkan, sebelum menjadi lokalisasi, di situ merupakan area penumpukan batu split untuk proyek pembangunan Bandara Syamsudin Noor. "Masyarakat sekitar kemudian menyebut lokasi ini dengan nama Pembatuan," ceritanya.

Seingatnya, pada awalnya hanya ada tujuh sampai delapan rumah bordil yang beroperasi. Dan hanya ada dua mami alias mucikari yang membina. "Kedua mami ini merekrut PSK dari luar untuk bekerja di Pembatuan. Nah, dulu itu mayoritas pelanggannya adalah pekerja bangunan proyek bandara," ujarnya.

Para pekerja proyek itu ujarnya sedang haus belaian. Maklum, kebanyakan dari luar daerah. Mereka sedang berada jauh dari rumah dan istrinya. "Entah bagaimana kisahnya, kedua mami ini mengambil momen itu. Menawarkan jasa PSK. Rupanya berhasil dan semakin banyak saja pelanggan yang datang," bebernya.

Seiring waktu, nama Pembatuan kian tersohor. Sontak, pria hidung belang dari luar Banjarbaru turut bertandang. 

Editor : Arief
#Indepth #lokalisasi #asusila #banjarbaru #Pembatuan