BANJARMASIN – Sinar matahari sore jatuh menerpa gerbang Universitas Lambung Mangkurat (ULM) di Banjarmasin Utara, Kamis (12/6).
Di depan gerbang itu, sekelompok pemuda berkumpul dengan spanduk besar bertuliskan, "SaveMeratus #EndCoal."
Mereka dari Komunitas Aksi Kamisan Kalimantan Selatan (Kalsel) yang berkolaborasi dengan Ikatan Mahasiswa Papua (IMAPA).
Tema besar aksi adalah "Dari Meratus ke Raja Ampat: Stop Deforestasi dan Tambang Ugal-Ugalan."
Di antara kerumunan, Farida Anselmamogan (26) memegang pengeras suara, berbicara dengan suara bergetar.
Lima tahun sudah ia meninggalkan kampung halamannya di Distrik Jair, Boven Digoel, Papua Selatan, untuk menuntut ilmu di Banjarmasin.
"Saya pergi jauh dari Papua dengan biaya sendiri, demi pendidikan. Tapi ketika pulang, apa yang tersisa?" tanya alumni Universitas Sari Mulia ini dengan suara terisak.
Hutan-hutan sagu yang dulu menjadi sumber kehidupan masyarakat di kampungnya hilang, digantikan kebun sawit.
"Kami kehilangan sumber pangan. Mau makan saja harus bikin proposal. Mau sekolah juga bikin proposal. Ini bukan hidup yang layak bagi kami masyarakat adat. Kami kehilangan kedaulatan di tanah sendiri," bebernya.
Farida juga menyoroti nasib Raja Ampat yang kini dikeruk tambang nikel. "Kalau Raja Ampat saja tidak bisa kalian jaga, apalagi tempat lain," tambahnya.
Farida juga mengaku terhubung dengan masyarakat Meratus setelah melakukan perjalanan tugas kuliah. "Saya melihat langsung bagaimana deforestasi menghancurkan kehidupan masyarakat adat di sini," ujarnya.
Ia menutup pidatonya dengan emosional. "Indonesia ini kaya, tapi mengapa harus seperti ini? Papua dan Kalimantan sudah memberikan segalanya, tapi kenapa kami masih dibuat menderita?"
Theo Girsang, demonstran lainnya, menyebut aksi ini sebagai bentuk solidaritas antardaerah yang berbagi nasib serupa. "Hutan Meratus dan Papua sama-sama dikorbankan atas nama ekonomi dan pembangunan. Alam kita habis dikeruk, hanya untuk mengenyangkan perut para penguasa dan oligarki," ujar Theo.
Ia mengutip data Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Kalsel yang mengungkap fakta Kalimantan Selatan telah kehilangan 16.067 hektar hutan sepanjang 2023. Sebanyak 399 ribu hektar lahan di provinsi ini telah dibebani izin tambang, termasuk kawasan karst yang menjadi sumber air bagi masyarakat.
Ia juga mengkritisi rencana penetapan 119.000 hektar hutan Meratus menjadi Taman Nasional, yang menurutnya berpotensi mengusir masyarakat adat.
Aksi ini lebih dari protes, ini refleksi akan wajah pembangunan yang mengorbankan masyarakat adat demi keuntungan oligarki.
Editor: Syarafuddin
Editor : Arief