Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Jumat Kelabu dalam Ingatan Banjarmasin, Jalan Lambung Mangkurat Dipenuhi Mahasiswa

Riyad Dafhi Rizki • Sabtu, 24 Mei 2025 | 11:35 WIB
MENOLAK LUPA: Peringatan tragedi Jumat Kelabu kembali digelar di Banjarmasin, kemarin.
MENOLAK LUPA: Peringatan tragedi Jumat Kelabu kembali digelar di Banjarmasin, kemarin.

Jumat, 23 Mei 2025, Jalan Lambung Mangkurat dipenuhi oleh mahasiswa yang melakukan aksi bertajuk “Menolak Lupa, Tragedi Jumat Kelabu,” mengenang peristiwa kerusuhan terbesar yang pernah mengguncang Banjarmasin.

Di seberang jalan, seorang pria bernama Edy berdiri diam di depan tempat kerjanya. Matanya terpaku menatap kerumunan demonstran. Tetapi pikirannya terlempar ke masa lalu, ketika peristiwa kelam itu terjadi tepat 28 tahun lalu, pada Jumat, 23 Mei 1997. "Jumat ini terasa sama seperti dulu," gumamnya. “Sama-sama hari Jumat, tapi waktu itu jauh lebih mencekam,” bandingnya.

Hari itu, merupakan agenda puncak kampanye Partai Golkar untuk Pemilu 1997 di Banjarmasin.

Rencananya, kampanye dibagi dalam dua sesi. Pagi diisi dengan aksi simpatik, menyasar buruh, pengojek, dan tukang becak. Siang, seusai salat Jumat, panggung hiburan rakyat digelar di Lapangan Kamboja. Menteri Sekretaris Kabinet Saadilah Mursjid, Ketua MUI Kiai Hasan Basri, serta sejumlah artis ibu kota dijadwalkan hadir dalam acara tersebut.

Namun, rencana tinggal rencana. Terjadi kemudian adalah kerusuhan massal yang meluluhlantakkan kota ini.

Dalam buku Amuk Banjarmasin, kerusuhan awal terjadi di area depan Masjid Noor di Jalan Pangeran Samudera yang sedang ditutup untuk keperluan salat Jumat. Tiga sepeda motor beratribut parpol memaksa melintas meski sudah dilarang oleh polisi.

Bahkan mereka melaju dengan arogan, dan raungan mesin motor memecah kekhusyukan doa penutup salat, memancing amarah jemaah, yang langsung mengepung dan menghentikan pengendara. Keributan pecah.

Para jemaah mengepung, menahan, dan memukuli pengendara motor tersebut. Insiden ini menjadi pemicu yang menyulut amarah massa kampanye.

Kedua belah massa terlibat bentrok di jalanan. Kejadian ini dengan cepat berubah menjadi kerusuhan.

Photo
Photo

Edy, yang kala itu berusia 31 tahun dan bekerja sebagai teknisi di kantor cabang BNI di Jalan Lambung Mangkurat, menyaksikan langsung awal mula kerusuhan. "Ada yang bilang ke saya kalau ada kerusuhan," kenangnya. "Saya tidak percaya. Tapi ketika saya berjalan menuju simpang empat Jalan Lambung Mangkurat, saya melihat sendiri ratusan orang berjalan dengan marah”. Lantas mencabuti umbul-umbul parpol.

Ketakutan, Edy berlari kembali ke kantornya. Dari lantai atas gedung, ia menyaksikan massa yang marah bergerak ke Lapangan Kamboja, lokasi kampanye dan kantor DPD parpol.

Di Lapangan Kamboja, massa merangsek, membubarkan kampanye, dan menyerang peserta kampanye. Penyisiran ini dilakukan massa yang dari ciri-ciri fisiknya terlihat menggunakan atribut parpol lain.

Sebagian besar peserta kampanye lantas melarikan diri, sementara yang tertangkap dipaksa melucuti atribut partai mereka. “Saya melihat dengan teropong, banyak massa parpol lari tunggang langgang,” tuturnya.

Sementara serangan terhadap kantor DPD parpol berlangsung dalam dua gelombang. Pertama, massa mengejar simpatisan parpol yang lari ke dalam kantor. Aksi saling lempar batu antara massa dan simpatisan parpol pun terjadi.

Karena kalah dalam jumlah massa, simpatisan parpol lari terbirit-birit. Sebelum aparat keamanan berhasil meredakan amuk massa, lima mobil milik simpatisan parpol yang berada di kantor DPD turut dibakar.

Serangan kedua terjadi pada pukul 18.00, saat halaman depan gedung kantor masih mengepul akibat terbakarnya mobil pada serangan pertama. Kali ini massa juga membakar bagian depan gedung dan memblokade jalan agar pemadam kebakaran tak dapat masuk. "Tidak diketahui dari mana datangnya, kerumunan massa perusuh semakin lama kian membesar. Mereka datang dengan senjata tajam. Semua orang yang sudah terlanjur menggunakan atribut parpol berlarian menyelamatkan diri," ceritanya.

Kerusuhan lalu meluas ke tempat lain: sekitar pukul 14.00, massa menyerang rumah ibadah, merusak dan membakar kursi serta meja di tengah jalan. Upaya membakar tempat ibadah ini gagal karena temboknya yang kokoh.

Setelah itu, pusat perbelanjaan menjadi sasaran. Pertokoan di Jalan Lambung Mangkurat, Pasar Lima, dan Plaza Junjung Buih dirusak, dijarah, dan dibakar.

Beranjak petang, massa mulai beramai-ramai ke arah Mitra, pusat pertokoan terbesar di Banjarmasin. Di gedung berlantai empat ini terdapat toko-toko elektronik, komputer, diskotek, ruang pertemuan, showroom mobil mewah, toko buku Gramedia, KFC, dan sarana hiburan anak-anak. Massa berhasil masuk dengan menerobos blokade keamanan dan kemudian menjarah pusat perbelanjaan dan hiburan tersebut. "Massa menggunakan gerobak dan becak untuk mengangkut barang-barang jarahan".

Ketika kerusuhan terjadi pada siang menjelang petang, pihak keamanan seakan berdiam diri. “Di depan kantor ini, ada banyak tentara. Mereka hanya duduk bersantai, tidak melakukan apa-apa,” katanya.

Namun, ketika hari beranjak gelap, suasana di Jalan Lambung Mangkurat semakin mencekam. "Saya dilarang pulang," kata Edy. “Saat malam tiba, suasana benar-benar menakutkan”.

Pemerintah memberlakukan jam malam. Tidak ada seorang pun yang diizinkan berada di luar rumah. Siapa saja yang melintas di jalanan akan langsung ditangkap.

Edy melihat langsung ketika aparat keamanan mulai bergerak menangkapi massa yang tersisa. “Di sebelah kantor ini, saya mendengar aparat membentak seorang perusuh. Mereka berkata, ‘Kamu ‘kan yang membakar?’ sambil mencengkeram kepala pria itu dan menghantamkannya ke tembok. Benar-benar mengerikan,” ujarnya.

Ketegangan memuncak ketika kendaraan militer berat, mulai turun ke Jalan Lambung Mangkurat menjelang tengah malam. Dari tempat persembunyiannya, Edy mendengar letusan peluru senapan yang memecah keheningan malam. “Banyak orang yang diseret oleh tentara. Tubuh dan wajah mereka babak belur, tidak lagi berbentuk. Entah ke mana mereka dibawa,” katanya.

Hasil investigasi Tim Pencari Fakta Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), tercatat ada sebanyak 123 korban tewas, 118 orang luka-luka, dan 179 lain hilang dalam tragedi ini. Pusat pertokoan, kantor pemerintahan, tempat peribadatan, sekolah, hingga rumah warga, bahkan rumah panti jompo, ikut menjadi korban dengan cara dirusak, dibakar, dan dihancurkan.

Menurut Sejarawan Kalsel, Mansyur, ada 400 kepala keluarga kehilangan tempat tinggal dan 4 ribu karyawan kehilangan pekerjaan akibat peristiwa itu. Selain itu, ada 21 mobil terbakar, 12 mobil rusak, 60 motor terbakar, dan 4 lainnya rusak.

Ratusan mayat dari kerusuhan ini akhirnya dikuburkan secara massal di kompleks pemakaman Landasan Ulin Tengah, Kecamatan Landasan Ulin, Banjarbaru. Peristiwa itu meninggalkan bekas yang dalam di benak banyak masyarakat Banjarmasin.

Kali ini, Edy melihat ratusan mahasiswa dari berbagai kampus di Kalimantan Selatan bersatu dalam aksi simbolik untuk memperingati peristiwa yang mengguncang Banjarmasin 28 tahun silam. Aksi dimulai dengan long march dari Taman Kamboja, yang berada di samping Hotel A Banjarmasin, sebagai titik utama peringatan.

Sepanjang jalan, suasana dipenuhi dengan seruan orasi, pembacaan puisi, dan penyampaian opini yang bergantian dari para peserta.

Tidak hanya itu, berbagai properti pendukung turut mewarnai aksi ini: spanduk besar bertuliskan pesan-pesan tentang Tragedi Jumat Kelabu, kayu nisan simbolis, hingga keranda mayat dan penaburan bunga sebagai bentuk penghormatan. “Dari aksi ini, kami ingin masyarakat merawat ingatan akan tragedi ini,” ujar koordinator aksi, Dimas Bara Saputra.

Ia juga berharap agar generasi muda, yang kini hidup di era kemudahan akses internet dan media sosial, dapat memanfaatkan teknologi untuk mengenang sejarah kelam tersebut. “Namun, jika itu masih dirasa kurang, maka aksi seperti ini adalah bentuk nyata untuk menarik perhatian masyarakat agar terus mengingat tragedi Jumat Kelabu,” tambahnya.

Aksi damai ini juga menjadi momentum untuk menyuarakan pernyataan sikap. Ada dua poin utama yang disampaikan. Pertama, menolak lupa tragedi kelam yang pernah terjadi di Banjarmasin agar tak terulang lagi di Kalimantan Selatan. Kedua, mengajak seluruh elemen masyarakat dan mahasiswa untuk bersatu memerangi fanatisme politik yang berlebihan.

Di tempat lainnya, aksi teatrikal, digelar Sanggar Titian Barantai (STB) Universitas Islam Kalimantan (Uniska) MAB dalam rangka menolak lupa tragedi berdarah Jumat kelabu 23 Mei 1997. Dengan gerak tubuh, dialog, dan simbol-simbol kuat, mereka mengajak masyarakat untuk tidak melupakan peristiwa kelam ini.

Ketua Umum Sanggar Titian Barantai Uniska, Syarifah Rofifah mengatakan aksi tersebut bertujuan untuk mengingat bahwa pernah terjadi kerusuhan besar di kota Banjarmasin. "Ini bukan untuk membuka luka lama, tetapi untuk memastikan tragedi seperti ini tidak pernah terulang," ujar Syarifah Rofifah. Aksi ini juga mengingatkan warga Kota Seribu Sungai untuk terus menjunjung tali persaudaraan dan menjaga keharmonisan demi masa depan yang lebih baik.

Sementara itu, Edy berdiri di tempat yang sama, tetapi dengan perasaan yang berbeda. Melihat rombongan mahasiswa melintasi jalan dengan membawa spanduk besar bertuliskan "Menolak Lupa, Tragedi Jumat Kelabu." "Itu benar-benar hari yang menyedihkan bagi Banjarmasin, semoga tidak pernah terulang lagi"

Editor: Eddy Hardiyanto

Editor : Arief
#kerusuhan #jumat kelabu #banjarmasin #mahasiswa