Nama Marsinah kembali mencuat setelah Presiden Prabowo Subianto menyetujui usulan perwakilan kaum buruh pada May Day lalu.
****
SUARA getir mengudara di Taman Kamboja, Jalan Anang Adenansi, Banjarmasin Tengah, Ahad (11/5) sore.
Seorang perempuan duduk di tengah kerumunan. Menyampaikan narasi penuh emosi. Suaranya memecah keheningan, menyentuh luka-luka sejarah yang belum sembuh sepenuhnya.
"Suara-suara itu... dia datang lagi... seperti derap kaki seribu serigala menggetar bumi. Mereka datang menghadang ke damaiku. Bahkan sampai ke liang kubur ini mereka mengikutiku terus. Kalau betul maut adalah tempat menemu kedamaian, kenapa aku masih seperti ini? Terhimpit di tengah pertarungan-pertarungan lama...."
Monolog berjudul Marsinah Menggugat karya Ratna Sarumpaet itu membuka momen reflektif yang kuat, menggugah ingatan.
Aktivis, seniman, hingga mahasiswa merenungi makna perjuangan Marsinah, buruh perempuan yang tewas dibunuh pada 8 Mei 1993 karena perlawanannya terhadap ketidakadilan pekerja.
Diskusi bertajuk "Marsinah, Siapa Punya?" ini digagas komunitas Gemar Belajar (Gembel) Banjarmasin, Sanggar Seni Demokrat, Platform Lilium, Narasi Perempuan, BEM FISIP Universitas Lambung Mangkurat (ULM), dan Himapem ULM.
Marsinah bukan hanya nama dalam sejarah buruh Indonesia, tetapi juga simbol perjuangan yang tak lekang oleh waktu.
Perwakilan Narasi Perempuan, Eliyana Puspita Sari memantik diskusi setelah monolog tersebut.
Dia pengin para pemuda, terutama perempuan meneladan semangat Marsinah dalam memperjuangkan hak-haknya.
"Marsinah menunjukkan bagaimana memperjuangkan makna kemerdekaan bagi perempuan. Perempuan harus merampas kembali tubuhnya, yang sering kali terkungkung oleh norma dan ketidakadilan."
Eliyana melihat, perjuangan perempuan tidak selalu harus melalui organisasi besar. Media sosial dan tulisan dapat menjadi medium perlawanan yang efektif.
Maka ia pun mengajak perempuan untuk terus bersuara dan membagikan pengalaman mereka, meskipun terkadang suara itu sulit didengar di tengah kebisingan.
Pemantik diskusi lainnya, Tiara Karina dari Himapem FISIP ULM turut memberikan pandangannya dalam diskusi ini.
Bagaimana Marsinah mendobrak batasan yang selama ini mengungkung perempuan? "Dahulu, perempuan dibatasi dan diarahkan mengikuti organisasi bentukan pemerintah seperti Dharma Wanita. Tetapi Marsinah melawan batas itu. Ia menyuarakan ketidakadilan di dunia kerja.
Sayangnya, 32 tahun setelah kematian Marsinah, ketidakadilan itu masih ada. Hak perempuan di dunia kerja masih belum sepenuhnya terakomodir, meskipun regulasi seperti cuti hamil dan melahirkan sudah ada."
Tiara juga menggarisbawahi, perjuangan Marsinah sangat erat kaitannya dengan pengetahuan.
Di tengah keterbatasan, Marsinah terus membaca dan belajar. Namun, ia menyayangkan kondisi saat ini.
"Ironisnya, ketika informasi begitu mudah diakses, justru banyak perempuan yang tidak kritis dan enggan membaca. Mereka lebih mudah terbawa arus gaya hidup yang tidak penting, cenderung tidak vokal."
Tantangan terbesar saat ini adalah menarik perempuan yang masih apatis terhadap perjuangan. Sementara peluangnya ada, dengan banyaknya ruang diskusi dan inisiasi kelompok-kelompok perempuan yang mulai tumbuh, perubahan perspektif menjadi kunci.
"Kita harus mengubah cara pandang mereka supaya lebih sadar akan keadaan sekarang. Supaya lebih peduli dan mau berkontribusi dalam perjuangan hak perempuan."
Sementara itu, Dhea Putri Salsabila dari BEM FISIP ULM mengatakan, diskusi seperti ini adalah langkah penting untuk membangun keberanian perempuan agar lebih vokal dalam memperjuangkan hak mereka.
Ia menyoroti pentingnya edukasi dan diskusi sebagai metode untuk menyuarakan hak-hak perempuan.
"Sampai hari ini pun, penyelenggara negara sering kali tidak memberikan apresiasi pada upaya perempuan untuk vokal tentang hak-hak mereka. Diskusi seperti ini sangat penting untuk saling berbagi, belajar, dan menyuarakan ketidakadilan, baik di dunia kerja maupun dalam lingkup lainnya."
Dhea juga menyatakan, meskipun kesadaran mulai tumbuh di kalangan perempuan, tantangan tetap ada.
"Di kampus sendiri, meskipun sudah ada inisiatif dari organisasi mahasiswa maupun fakultas untuk mendukung perempuan, masih banyak yang takut atau khawatir untuk bersuara karena diskriminasi masih ada. Bahkan di lingkungan kampus, belum sepenuhnya aman untuk berbicara tentang hak-hak perempuan," tegasnya.
Usulan Marsinah
Dalam perayaan Hari Buruh Internasional May Day di kawasan Monas, Jakarta, 1 Mei 2025 lalu, Presiden Prabowo Subianto menerima usulan perwakilan kaum buruh untuk menjadikan Marsinah sebagai pahlawan
"Dalam pertemuan, para tokoh buruh bertanya kepada saya, 'Pak, kenapa sih tidak ada pahlawan nasional dari kaum buruh?'" kata Prabowo.
"Mereka kemudian menyampaikan, bagaimana kalau Marsinah, Pak? Marsinah jadi Pahlawan Nasional?" lanjutnya.
"Asal seluruh pimpinan buruh mewakili kaum buruh, saya akan mendukung Marsinah menjadi Pahlawan Nasional," tegasnya.
Editor: Syarafuddin
Editor : Arief