BANJARMASIN – Banjarmasin didorong menjadi Kota Toleransi, setelah menjadi yang pertama menggelar Exposure Unjuk Karya Kluster untuk pengembangan toleransi pro eksistensi berbasis komunitas.
Menjadi satu dari lima kota terpilih—bersama Yogyakarta, Ambon, Kupang, dan Denpasar—Banjarmasin dianggap mampu mencerminkan harmoni di tengah masyarakatnya yang multietnis.
Program yang diikuti 200 peserta lintas agama ini diinisiasi Kalijaga Institut for Justice (KIJ) Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan difasilitasi Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Banjarmasin.
Kegiatan berlangsung di Aula Kayuh Baimbai, Balai Kota, Sabtu (10/5), dan Wakil Wali Kota Banjarmasin, Ananda.
"Banjarmasin adalah kota yang selalu terbuka dengan keberagaman," ucap Ananda dalam sambutannya.
Ia pun mengaku bangga karena Banjarmasin bisa terpilih sebagai salah satu locus program ini.
"Alhamdulillah, kita bersyukur karena dipandang sebagai kota yang toleran. Semoga kita terus membina toleransi ini," katanya.
Targetnya, pada 2026 nanti Banjarmasin masuk dalam 10 besar Kota Toleran di Indonesia. Salah satu strateginya adalah menjadikan Kampung Gedang di Banjarmasin Tengah sebagai Kampung Toleran.
Kawasan ini dipilih karena karakter uniknya, yakni menjadi tempat tinggal berbagai perwakilan agama yang hidup berdampingan secara harmonis dalam satu kelurahan.
Rencana peresmian Kampung Gedang sebagai Kampung Toleran dijadwalkan dalam waktu dekat.
"Kemarin, saya mewakili Pak Wali Kota Yamin menghadiri rapat ekspos. Target kita, insyaallah, pada 2026 Banjarmasin masuk dalam 10 besar Kota Toleran," ujar Ananda.
Program ini tidak hanya melibatkan pemerintah, tetapi juga tokoh agama dan komunitas lokal. Dengan pendekatan berbasis komunitas, program ini bertujuan memperkuat kolaborasi dan membangun kompetensi untuk mendukung toleransi di tingkat lokal.
"Semoga kegiatan ini menjadi langkah awal yang kokoh dalam mendorong harmoni di Banjarmasin, hingga kita bisa menjadi contoh bagi kota-kota lain di Indonesia."
Perwakilan Penyelenggara KIJ UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof. Syamsiatun menjelaskan, sebelum sampai pada tahapan exposure, peserta telah melalui empat kegiatan lainnya. Dimulai dengan pelatihan fasilitator, di mana para fasilitator dilatih untuk membimbing komunitas dalam membentuk simpul toleransi di setiap kelompok agama.
Selanjutnya, pelatihan penggerak agama, di mana pemuka agama dari berbagai keyakinan membentuk simpul komunitas di kalangan penganut masing-masing.
"Hasilnya, terbentuk 20 simpul, dengan masing-masing simpul terdiri dari 10 anggota," katanya.
Berikutnya adalah pelatihan kompetensi kolaboratif. Dalam tahap ini, peserta diberi kebebasan untuk bertanya tentang praktik atau ritual agama lain yang belum mereka pahami guna membuka ruang dialog yang konstruktif.
Kemudian, pelatihan kolaboratif melatih peserta lebih intensif untuk bekerja secara mandiri, membangun inisiatif toleransi dalam komunitas mereka.
Akhirnya, tahapan exposure menjadi puncak unjuk karya kepada pemangku kepentingan dan tokoh agama.
"Peserta dari berbagai kluster saling mengevaluasi kekuatan yang ada di masyarakat untuk meningkatkan toleransi," terang Prof. Syamsiatun.
Editor: Syarafuddin
Editor : Arief