BANJARMASIN – Maraknya gelandangan pengemis (gepeng) dan anak jalanan (anjal) di kota ini, membuat Dinas Sosial (Dinsos) Banjarmasin meminta masyarakat untuk menghentikan kebiasaan bersedekah di jalanan.
Pasalnya, kebiasaan ini justru memupuk ketergantungan mereka. "Mereka jadi merasa nyaman, bahkan sebagian menganggap ini (mengemis) sumber penghasilan utama," ungkap Nuryadi, Rabu (30/4/2025).
Contoh, penghasilan harian "manusia silver" bisa mencapai Rp200 ribu hingga Rp300 ribu. Nominal yang menggiurkan, terutama bagi bocah dan remaja.
Namun, itu justru membahayakan keselamatan mereka di jalan raya dan pengguna jalan. Dan, merusak pola pikir mereka tentang bagaimana mencari penghidupan secara benar.
"Kalau masyarakat terus memberi, mereka akan merasa ini cara yang paling mudah dan nyaman untuk mendapatkan uang," tambahnya.
Dalam banyak kesempatan, manusia-manusia silver itu dirazia Satpol PP. Lalu diantar ke Rumah Singgah milik Dinsos.
Nuryadi gusar, karena sebagian besar manusia silver itu menunjukkan perilaku tidak kooperatif saat dibina. "Mereka sering merusak dinding dan plafon Rumah Singgah. Ini jadi masalah yang terus berulang," katanya.
Bahkan, belum lama, beberapa kabur dengan menjebol jendela Rumah Singgah.
Menurutnya, inilah saatnya masyarakat turut berperan dalam mengatasi masalah ini. Caranya sederhana, dengan berhenti memberikan uang kepada mereka di jalan.
"Jika ingin membantu, ada cara lain yang lebih tepat, seperti mendukung program sosial atau lembaga amal yang fokus pada pemberdayaan," tutupnya.
Editor: Syarafuddin
Editor : Arief