BANJARMASIN – Kondisi Pasar Sentra Antasari di Banjarmasin tengah kian kumuh dan kotor pasca libur lebaran.
Tumpukan sampah berserakan di sejumlah sudut, menciptakan pemandangan jorok.
Pantauan Radar Banjarmasin pada Senin (7/4), setidaknya tiga titik gunungan sampah. Yakni di blok pasar pisang di belakang pasar, pasar jagung, dan blok pertokoan emas. Paling parah di blok yang disebut pertama. Di titik ini, sampah menjulang hingga sekitar 3 meter. Jalan pun nyaris tertutup.
Menurut pedagang, kondisi ini sudah berlangsung hampir sebulan. Sejak Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Basirih ditutup Kementerian Lingkungan Hidup pada pada 1 Februari 2025.
Ketika itu, penumpukan terjadi kendati masih bisa teratasi lewat pengangkutan rutin. Namun pasca Idulfitri, masalahnya kian menjadi-jadi.
"Baunya sangat membuat tidak nyaman," keluh Madi, salah seorang pedagang buah yang lapaknya berseberangan dengan tumpukan sampah.
Ia mengeluhkan serbuan lalat yang seakan tak ada habisnya. Sudah pasti berdampak pada dagangannya.
"Saya merasa pembeli jadi sepi. Dengan adanya gunungan sampah ini, pengunjung pasar jadi malas jalan ke sini," ujarnya.
Keluhan serupa disampaikan Farida, pedagang tempe yang berjualan tak jauh dari tumpukan sampah.
"Pengunjung yang biasanya berjalan sampai ke belakang pasar kini jauh berkurang. Imbasnya, jualan ikut sepi," tuturnya.
Beralih ke blok pasar jagung, tumpukan sampah menutup sebagian areal parkir. Pendapatan para juru parkir pun merosot.
"Pendapatan kami nyaris turun separuh. Biasanya bisa dapat Rp300 ribu per hari, sekarang hanya sekitar Rp150 ribu, karena areal parkirnya tertutup sampah,” ungkap Ahmad Junaidi, salah seorang jukir.
Meski pendapatan berkurang, setoran retribusi ke Dinas Perhubungan (Dishub) tetap harus dibayar penuh.
"Sudah satu pekan lebih kondisinya begini. Kami berharap bisa segera ada solusi," ucapnya.
Sementara itu, di area pertokoan emas, situasinya tak kalah mengenaskan. Bau busuk kian menyengat karena ada yang membuang limbah potongan ayam, seperti bulu hingga jeroan.
Menurut Udin, wakar setempat, masyarakat luar yang juga ikut membuang sampah di pasar memperburuk situasi.
"Yang buang itu kebanyakan bukan pedagang, tapi masyarakat luar pasar," kata Udin.
Udin mengaku sudah sering menegur mereka, dari cara halus hingga kasar. Tapi tetap saja tak digubris. "Banyak warga yang bandel. Tidak bisa lengah sedikit, pasti ada yang membuang," keluhnya.
"Waktu hari raya, saya cuma tinggal salat ied sebentar, pas balik ke sini sampahnya sudah membeludak," ujarnya.
Bahkan, kata dia, tak jarang nyaris terjadi perkelahian hanya karena urusan melarang orang membuang sampah sembarangan.
"Sampai mau berkelahi cuma gegara sampah saja," gumamnya.
Percepat Normalisasi
Direktur Operasional dan Bisnis Perumda Pasar Bauntung Batuah (Baiman), Azhar Budi tak menampik lonjakan volume sampah di sejumlah pasar, terutama di Sentra Antasari.
Salah satu penyebab adalah terbatasnya jam operasional TPA Banjarbakula selama Ramadan.
"Selama bulan puasa, jam operasional TPA hanya sampai pukul 12.00 atau maksimal 13.00 siang. Padahal, pada hari normal bisa sampai pukul 16.00," jelas Azhar.
"Imbasnya, armada kita tidak bisa melakukan pembuangan secara maksimal, sehingga terjadi penumpukan di pasar," tambahnya.
Tak hanya itu, Azhar mengungkap, menjelang lebaran volume pasokan barang pedagang juga meningkat signifikan.
Kondisi ini otomatis menambah jumlah sampah yang dihasilkan setiap harinya.
"Puncaknya terjadi pada 31 Maret dan 1 April lalu, ketika TPA Banjarbakula sempat tutup selama dua hari (karena libur Idulfitri). Penumpukan pun tak terhindarkan," ucapnya.
Azhar memastikan, pihaknya terus berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup untuk mempercepat proses normalisasi. "Kami upayakan pengangkutan sampah dilakukan lebih intensif," ucapnya.
"Pengangkutan telah dimulai sejak petang tadi. Kami kerjakan sampai malam, insyaallah besok habis," ujarnya.
Kesadaran Pedagang
Anggota Komisi II DPRD Banjarmasin, Rudi Heriyadi menegaskan masalah sampah di pasar bukan semata-mata tanggung jawab Perumda Pasar Baiman.
"Tidak bisa hanya dibebankan kepada satu pihak," ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya kesadaran pedagang dalam menjaga kebersihan lingkungan pasar.
Lebih lanjut, ia menyebut persoalan yang terjadi saat ini merupakan buah kesalahan masa lalu, dalam konteks rendahnya kesadaran masyarakat dalam pemilahan sampah.
“Memilah sampah belum menjadi kebiasaan masyarakat. Ini yang harus kita benahi bersama,” kata Rudi.
Editor: Syarafuddin
Editor : Arief