BANJARBARU - Hari itu, suasana ruangan kecil berubah menjadi bioskop inklusif lewat program Bioskop Bisik Vol. #3, bagian dari Layar Film Banjar Inklusif yang digagas oleh Forum Sineas Banua.
Bertempat di ruang audio visual Dinas Arsip dan Perpustakaan Banjarbaru, Jumat (21/3), dalam volume ini, dua film diputar: Kasumbi (produksi LK3 Banjarmasin, 2020) dan Ajak Tukup (produksi TVRI Kalimantan Selatan, 2023).
Dua karya sineas lokal itu menyimpan cerita yang dekat dengan banyak orang. Salah satu aktris di film Kasumbi, Novita Nuarbijk, turut hadir di antara penonton. "Bahagia sekali rasanya, melihat film lokal jadi lebih luas aksesnya. Ini bahan bakar buat kita, para pelaku seni, untuk berkarya lagi," ucap Novita.
Kesan paling hangat justru datang dari Muhammad Fajri, perwakilan DPC Gerkatin (Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia) Kabupaten Banjar.
Dengan bahasa isyarat yang diterjemahkan oleh Adelia Ananda, Fajri berbagi cerita tentang kenangannya bermain Balogo, seperti yang tergambar di Ajak Tukup. "Film ini seperti refleksi masa kecil saya. Senang sekali rasanya bisa menonton karya-karya lokal seperti ini," katanya.
Bioskop Bisik mengundang berbagai komunitas dan kelompok, mulai dari DPC Gerkatin Banjarbaru, Pertuni, Panti Fajar Harapan, hingga murid-murid dari Sekolah Luar Biasa (SLB) di Banjarbaru dan Martapura.
Semua duduk bersama, menikmati cerita yang akhirnya terjangkau oleh semua kalangan. Berbeda dari volume sebelumnya di Wetland Square yang dihadiri 160 orang, edisi ini terasa lebih intim dengan hanya 50 penonton. "Ruang yang lebih kecil ini memberi suasana reflektif," Ridha Rezeqi Rahman, inisiator program ini.
Editor: Sutrisno
Editor : Arief